INFO SAWIT, JAKARTA – Dari artikel yang ditulis Dedi Kusnadi Kalsim, seorang peneliti asal Institut Pertanian Bogor, Dedi menulis ada beberapa kemungkinan tidak terbakarnya kebun sawit di Serawak, Malaysia yang didominasi lahan gambut, berikut kemungkinan penyebabnya.
Pertama, dari segi fisika tanah: lengas tanah di permukaan tanah pada MK lebih dari 200% (w/w) akibat dari WTM dimana kedalaman air tanah operasional 40-60 cm, dan maksimum pada MK tidak lebih dari 100 cm, sehingga kondisinya masih cukup lembab dan tahan terbakar. Hal ini disebabkan oleh 2 kemungkinan yaitu (a) akibat kompaksi tanah. Lantas, karena sifat distribusi hujan bulanan yang relatif lebih merata dibandingan dengan distribusi hujan bulanan di Sumatera dan Kalimantan (Indonesia). Hujan di Sarawak antara 3300-4600 mm/tahun, dengan hari hujan rerata 220 hari hujan/tahun. Pada musim kemarau bulan Mei-Agustus, hujan bulanan masih sekitar 200 mm/bulan. Sedangkan di Jambi dan Riau umumnya terjadi beberapa bulan (2-4 bulan) tanpa hujan pada musim kemarau.
Kedua, karena penduduk di Sarawak tidak terbiasa/budaya membakar lahan/hutan untuk membuka perkebunannya. Dilaporkan bahwa sebagian besar perkebunan sawit di lahan gambut dikelola oleh perusahaan besar yang memang tidak mempraktekan pembakaran untuk pembukaan lahannya. Selain itu pendapatan per kapita (GDP) di Sarawak (US$13,800 atau Rp182,160,000/kap/tahun, Gini Indeks 0.4-0.5, tahun 2014) sudah jauh lebih besar daripada di Sumatera dan Kalimantan. (Dedi KK)
Lebih Lengkap Baca InfoSAWIT edisi Januari 2017










