INFO SAWIT, JAKARTA - Berdasarkan data United State Department of Agriculture (USDA) tahun 2016, produksi minyak sawit mentah (CPO) global pada 2015/2016, diperkirakan sebesar 59,4 juta ton. Turun sebesar 3,63% dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kebutuhan konsumsi dunia yang meningkat sebesar 4,28% dibandingkan setahun sebelumnya, menjadi 61 juta ton.
Akibat meningkatnya konsumsi masyarakat global sebesar 4,28% di tahun ini, sedangkan produksi turun sebesar 3,63%, maka ada selisih defisit sebesar 1,6 juta ton. Tentu saja, keberadaan defisit ini, masih mampu dipenuhi, dengan memangkas persediaan CPO global. Secara otomatis, sentimen positif ini, turut mendorong kenaikan harga jual CPO di pasar global.
Tulis InfoSAWIT, Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia seharusnya memiliki potensi besar pula untuk menambah luasan perkebunan kelapa sawit nasional. Namun, berbagai keterbatasan kerap menghadang. Hambatan regulasi pusat dan daerah, konflik sosial dan lingkungan, menjadi “hot issues” yang lantang disuarakan lembaga swadaya masyarakat.
Banyaknya hambatan yang menghadang pertumbuhan luasan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, merupakan gambaran nyata, masih kurangnya informasi yang akurat mengenai pentingnya minyak sawit bagi konsumen dunia termasuk Indonesia. Keberadaan minyak sawit yang menjadi satu-satunya andalan minyak nabati dunia pun, belum diketahui masyarakat luas.
Lantaran banyaknya isu-isu negatif yang mengganjar keberadaan minyak sawit di Indonesia. Wajar, bila masyarakat luas tidak mengerti, lantaran sulitnya mengakses informasi akurat mengenai minyak sawit di Indonesia. Bila keberadaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia kian sulit berkembang, kenapa informasi mengenai minyak sawit tidak dibuka lebih lebar? (tanyakan kepada pemerintah dan pengusaha – red)
Bila menelisik keberadaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, yang sudah dikembangkan sejak jaman penjajahan Belanda. Sejatinya memiliki makna luas akan pembangunan daerah pelosok dan terpinggirkan. Lantaran perkebunan kelapa sawit harus dikelola secara ekonomis dengan luasan lahan yang mencukupi.
Itulah sebabnya, pembangunan perkebunan kelapa sawit di daerah pelosok dilakukan, jauh dari pemukiman padat dan perkotaan. Kondisi serba sulit dan penuh tantangan menjadi ujian awal pembukaan perkebunan kelapa sawit pada mulanya. Keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia, menjadi ujian terberat untuk membangun perkebunan kelapa sawit di pelosok desa. (T1)







