INFO SAWIT, SAMARINDA - Hingga saat ini, percepatan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) masih bergantung kepada sektor pertambangan dan minerba (mineral dan batubara). Sesuai visi Kaltim 2030, yakni mempercepat pertumbuhan ekonomi Bumi Etam, maka pertumbuhan ekonomi difokuskan pada perkembangan hilirisasi sumber daya yang dimiliki daerah, baik sektor pertambangan, minerba hingga pengembangan perkebunan kelapa sawit.
Mengutip dari laman kaltimprov.go.id, belum lama ini, Sekprov Kaltim Rusmadi mengatakan bahwa potensi Kaltim saat ini adalah pertambangan dan minerba, serta perkelapasawitan. Tetapi, ada juga tambahan yang diberikan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), yaitu di sektor perikanan dan pariwisata. Walaupun selama ini, tergantung bagaimana membangun hilirisasinya dan saat ini telah diprogramkan Pemprov Kaltim menuju Visi Kaltim 2030.
Hal itu telah disebutkan pada Focus Group Discussion (FGD) yang dibuka oleh Rusmadi mengenai regional growth strategy menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, merata dan berkelanjutan yang dilaksanakan KEIN bekerja sama dengan Biro Humas Setprov Kaltim. Pemprov Kaltim mengatakan, program ini sejalan dengan kajian yang dilakukan KEIN, agar Kaltim ke depan mendukung pertumbuhan ekonomi yang mengandalkan program hilirisasi sumber daya daerah.
Sampai saat ini, dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat cukup signifikan, yaitu percepatan pembangunan jalan tol Balikpapan-Samarinda sepanjang 99,02 km. Walaupun kondisi tersebut belum tentu cukup untuk mendukung percepatan pembangunan ekonomi di Kaltim. Yang paling mendesak diperlukan yaitu dukungan berupa pembangunan kawasan industri. Misal, Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy kita cita-citakan untuk hilirisasi perkelapasawitan. Masih menunggu tangki timbun yang akan dikirimkan Pemerintah Pusat.
Untuk mendukung kawasan tersebut, Pemprov Kaltim telah melakukan penataan kaawasan, mulai membangun pelabuhan terminal crude palm oil (CPO) hingga infrastruktur jalan menuju akses kawasan tersebut. Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan KEIN telah mengkaji bagaimana percepatan pertumbuhan ekonomi di Kaltim, dan Kaltim masih tergantung pada sektor pertambangan dan penggalian serta kinerja ekspor. Sekitar 90% sumber daya alam Kaltim diekspor dalam bentuk mentah. Sementara untuk harga komoditas sedang mengalami tekanan di pasar internasional. Oleh karena itu, perlu alternatif lain, agar tidak pada satu komiditas utama, tetapi penting mendorong pertumbuhan dari potensi ekonomi lain yang ada di masing-masing wilayah.
Untuk strategi jangka pendek, Kaltim masih dapat mengembangkan industri olahan makanan dan minuman berbasis agro, karena Kaltim memiliki potensi yang sangat besar, serta mengoptimalisasi sumber daya perikanan, percepatan industri hilir kelapa sawit, dan percepatan proyek strategis nasional di Kaltim.(T2)










