Berita Lintas
sawitbaik

BIODIESEL LANJUT, PEREMAJAAN SAWIT BUTUH SOLUSI CEPAT



BIODIESEL LANJUT, PEREMAJAAN SAWIT BUTUH SOLUSI CEPAT

Sepanjang hampir dua tahun, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit telah menerapkan amanat dalam pengelolaan dana sawit untuk pengembangan industri kelapa sawit, kebijakan biodiesel terus lanjut, sementara  pendanaan untuk peremajaan masih terkendala.

Setelah dibentuk satu setengah tahun lalu, BPDP-KS, terus menjalankan amanat Perpres 24 Tahun 2016, sebagai pengganti Perpres 61 tahun 2015 tentang Badan Pengelola Dana Perkebunan.

Didalam Perpres itu dijelaskan BPDP selaku penampung dana perkebunan yang diambil sebanyak US$ 50/ton setiap CPO yang di ekspor. Pungutan dana perkebunan efektif diterapka per Juli 2015, dan dana pungutan mulai masuk ke BPDP per Agustus 2015.

Sebelumnya, merujuk laporan tahunan BPDP-KS yang diterbitkan tahun 2015, target pungutan dana perkebunan yang dikelola BPDP-KS sejumlah Rp 2,7 triliun, namun faktanya realisasi pungutan dana perkebunan sampai akhir tahun 2015 mampu mencapai Rp 9,6 triliun, atau naik tiga kali lipat dari yang ditargetkan.

Sementara itu realisasi penyaluran pada tahun tersebut mencapai Rp 467,21 miliar yang digunakan untuk membayar selisih harga biodiesel dengan minyak solar (subsidi) untuk bahan bakar PSO, kala itu kebijakan campuran biodiesel sebanyak 15% ke minyak solar (B15). Lantas untuk pengembangan riset sejumlah Rp 10,25 miliar dan replanting kebun sawit petani sebanyak Rp 623,5 juta.

Dikatakan Direktur Utama BPDP-KS, Bayu Krisnamurthi,  diakhir tahun 2015 lalu Indonesia dihadapkan pada situasi yang cukup sulit, utamanya untuk industri kelapa sawit nasional, misalnya produksi Tandan Buah Sawit (TBS) sawit yang melorot akibat stress setelah terjadinya kekeringan akibat iklim El-nino, lantas harga minyak bumi yang mencapai posisi sangat rendah sekitar US$ 30-35/barrel dan permintaan minyak sawit di dunia masih melemah.

Dengan tiga tantangan tersebut maka di 2016  pemerintah pun menerapkan kebijakan B20, atau campuran biodiesel 20% ke minyak solar, dengan cara demikian harapannya bakal menggenjot permintaan minyak sawit dalam negeri disaat permintaan minyak sawit dunia yang masih melemah. sehingga perimbangan stok pun terjadi.

Pada tahun 2016, BPDP-KS pun mengaktifkan secara penuh pemanfaatan dana sawit, hasilnya serapan biodiesel (PSO dan PLN) tahun 2016 mencapai 2,7 juta Kl dengan subisdi mencapai Rp 10,6 trilun.

Lebih lanjut kata Bayu, capaian ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 yang hanya mencapai o,56 juta Kl (tanpa didukung subsidi dari APBN) dan tahun 2014 sebanyak 1,84 juta Kl (didukung subsidi dari APBN).

BPDP mengklaim dengan adanya kenaikan serapan penggunaan biodiesel, telah mengerek harga CPO di dunia. “Kenaikan harga CPO di dunia diakui para pengamat internasional sebagai akibat dari faktor penurunan produksi akibat Elnino 2015 di Indonesia dan Malaysia, serta akibat keberhasilan program B20 Indonesia,” katanya di kantor BPDP di Jakarta kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Bahkan program B20 itu juga . . .