Berita Lintas
sawitbaik

PASAR TRAKTOR MASIH BERPOTENSI NAIK



PASAR TRAKTOR MASIH BERPOTENSI NAIK

DI SAAT SEKTOR TAMBANG TIDAK MEMBERIKAN LAGI PASAR BESAR BUAT ALAT BERAT, JUSTRU SEKTOR PERTANIAN DAN PERKEBUNAN BERPELUANG MENGISI KEKOSONGAN PASAR ITU. JADI, PROSPEK PASAR TRAKTOR KEDEPAN DITENGARAI MASIH BERPELUANG NAIK.

Kendati pasar traktor di Indonesia tidak terlalu besar, namun pangsa pasar traktor pertanian dan perkebunan di Indonesia terbilang  masih seksi, apalagi tahun 2016 lalu ada tender traktor dari pemerintah sebanyak 2000 unit untuk tanaman pangan.

Kondisi demikian membuat fluktuasi pasar traktor tidak terlalu signifikan setahun silam, dikatakan Senior Manager Agriculture & Forestry Sub Division Head PT Altrak 1978, Dedy Panca Setyawan, dengan adanya tender itu sekaligus sebagai penyelamat pangsa pasar traktor, lantaran pada saat yang sama harga minyak sawit (CPO) tidak kunjung membaik. “Maka pasar traktor pun terselamatkan,” tutur Dedy kepada InfoSAWIT, belum lama ini di kantornya.

Sejatinya lebih lanjut tutur Dedy, pangsa pasar traktor di Indonesia masih bisa terus tumbuh, apalagi sampai saat ini pangsa pasar traktor masih sekitar 3.100 hingga 3.300 unit setiap tahun. Pertumbuhan pangsa pasar traktor itu bisa diambil dari potensi industri perkebunan dan sektor pangan, yang masih belum maksimal dalam menggunakan traktor.

Sehingga dengan adaya upaya pengembangan di sektor pangan, maka kebutuhan traktor diprediksi akan terus meningkat, belum lagi dari komoditas pertanian dan perkebunan dimana budidaya secara mekanisasi di dua sub sektor pertanian itu belum maksimal diterapkan.

Jika saja proses mekanisasi di sektor tanaman pangan mulai mendominasi seperti di Thailand maka bakal mendongkrak kebutuhan traktor di Indonesia, lantaran bakal ada perpindahan penggunaan hand traktor ke traktor roda empat.

Di Thailand tutur Dedy, kebutuhan traktor setiap tahun telah mencapai 30 ribu unit, dan di India kebutuhannya sekitar 300 ribu unit. “Di Thailand, mekanisasi merupakan hal yang lumrah, sementara di India peran sapi yang dianggap hewan suci digantikan dengan traktor,” tutur Dedy.

Lantas bagaimana dengan sektor perkebunan? Faktanya sektor perkebunan juga memiliki potensi yang sama, kendati untuk perkebunan kelapa sawit sepanjang 2016 silam masih belum menunjukkan ada peningkatan harga CPO dunia, sehingga berpengaruh pada kebijakan perusahaan, utamanya dalam perluasan lahan atau penambahan lahan tertanam.

Untuk di awal tahun 2017 ini,  . . .