Info SAWIT, Nanga Bian - Mengubah perilaku tidak membakar, menjadi salah satu solusi jitu dalam memutus mata rantai kebakaran lahan dan hutan yang acap rutin terjadi di Indonesia. Seperti lewat penerapan Sekolah Lapangan Padi Darat yang dilakukan PT SMART Tbk.
Timbul penyakit sesak nafas, udara tidak bersahabat dan menimbulkan kerugian besar, itulah dampak dari kebakaran lahan dan hutan sepanjang tahun 2015 lalu. Untungnya pada tahun-tahun beriktunya upaya pencegahan dilakukan secara bersama-sama, tidak hanya pelaku perkebunan kelapa sawit nasional, masyarakat sekitar kebun pun diajak berpartisipasi dengan membentuk Desa Makmur Peduli Api. (baca InfoSAWIT Edisi Februari 2017, Desa Makmur Peduli Api - Masyarakat Sejahtera, lahan dan hutan Terjaga)
Cara demikian diharapkan dapat memutus mata rantai kebakaran lahan dan hutan yang acap terjadi setiap tahun di Indonesia, sejak kebakaran lahan dan hutan yang hebat terjadi tahun 1990 an lalu.
Melibatkan masyarakat sekitar kebun, bukannya tanpa alasan. Dengan melibatkan masyarakat dalam satu desa yang berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit, menjadi cara ampuh dalam upaya mencegah terjadinya kebakaran lahan dan hutan, apalagi ditengarai ada sebagian masyarakat yang masih memiliki perilaku membakar untuk kegiatan budidaya dalam berladang.
Kendati cara budidaya membakar itu dilakukan secara ketat dan hati-hati, namun tetap memiliki risiko tinggi terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Sebab itu perlu ada perubahan perilaku tidak membakar dalam kegiatan budidaya, sekaligus mendorong kemandirian pangan bagi masyarakat di wilayah pelosok.
Seperti dilakukan di Dusun Bian yang masuk dalam adminsitratif Desa Tua’ Abang, Kecamatan Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dusun ini secara lokasi sangat terpencil dan berjarak cukup jauh dari kota Kecamatan Semitau, sehingga membuat masyarakat mengeluarkan biaya yang tidak sedikit bila harus berbelanja bahan pangan pokok seperti beras, sayur, bumbu dapur dan kebutuhan lainnya.
Misalnya saja, untuk membeli 1 kg beras di warung-warung penjual sembako yang ada di dalam dusun, masyarakat harus mengeluarkan uang sekitar Rp.17.500/kg, padahal bila membeli jenis beras yang sama di Kecamatan Semitau, harganya hanya sekitar Rp.12.700,-/kg.
Sayangnya untuk berbelanja di Kecamatan Semitau butuh waktu sekitar 3 jam (pergi-pulang), termasuk mesti menghadapi kondisi infrastruktur jalan yang kurang baik, berdebu bila kemarau dan berlumpur bila musim hujan tiba, belum lagi harus melintasi sungai kapuas.
Kondisi ini tentu saja, membuat sulit masyarakat dalam mengatur keuangan rumah tangga mereka, terlebih lagi jika mereka juga harus membayar biaya sekolah anak-anaknya yang melanjutkan pendidikan ke kota-kota kecamatan, kabupaten dan propinsi.
Selain lokasinya yang terpencil, Dusun Nanga Bian juga diberkahi wilayah yang tanahnya memiliki tingkat keasaman (pH) antara 3 - 4. Dengan kadar pH tersebut tidak semua jenis padi dapat tumbuh. Jika pun tumbuh, produksinya jauh dari yang diharapkan. Untuk memenuhi kebutuhan beras satu rumah tangga selama setahun penuh, mereka harus menanam padi di lahan seluas 4-6 Ha.
Dengan adanya Sekolah Lapangan (SL) Padi Darat, yang merupakan salah satu program tanggung jawab sosial perusahaan dari PT SMART Tbk dan induk perusahaannya Golden Agri-Resources, melalui salah satu unit usahanya PT. Paramitra Internusa Pratama (PIP), program ini mendorong pola berladang petani di Dusun Bian dengan mengedepankan berladang tanpa membakar lahan dan berpindah seperti kebiasaan-kebiasaan petani sebelumnya, termasuk menerapkan konsep berladang secara organik dan tumpang sari.
Cara demikian menjadi salah satu bentuk kontribusi perusahaan sesuai dengan Kebijakan Sosial dan Lingkungan GAR (KSLG) yang diterapkannya. Program ini dilaksanakan untuk membantu terciptanya kemandirian sektor pangan bagi masyarakat dusun Nanga Bian yang lokasinya berdampingan langsung dengan wilayah operasional perusahaan. (T2)
Lebih lengkap baca InfoSAWIT, Edisi Maret 2017







