Info SAWIT, JAKARTA - Setelah sempat menjadi perbincangan akibat statmennya mengenai sawit bukan pemicu deforestasi, Guru Besar Fakultas Kehutatanan. Prof Yanto Santosa memberikan penelasan kepada media di Jakarta.
Dalam paparannya Prof Yanto Santosa menyebut, penelitian yang dilakukannya untuk memperoleh data dan informasi ilmiah yang akurat dan valid tentang sejarah asal usul status dan riwayat penggunaan lahan kebun sawit, baik perkebunan sawit besar (PSB) maupun kebun sawit swadaya (KSS).
Penelitian itu dlakukan di Pengambilan data dilakukan pada 8 PSB dan 16 KSS, yang secara administratif termasuk ke dalam 4 kabupaten yaitu Kampar, Kuantan Singingi, Pelalawan, dan Siak di wilayah Provinsi Riau.
Lebih lanjut tutur Prof Yanto, pihaknya lantas melakukan analisa perolehah perijinannya, lantas ditilik sejarah status lahan, mulai dari masih menggunakan regulasi TGHK tahun 1986, RTRWP Riau 1994 dan 2014, serta status kawasan hutan provinsi Riau tahun 2014. “Dari situ kita dapat kronologis status lahan sawitnya, secara status hukum kebun sawit bukan penyebab terjadinya deforestasi,” tutur Prof Yanto, dalam acara Roundtable Discussion “Benarkah Perkebunan Kelapa Sawit Penyebab Deforestasi?” di Jakarta belum lama ini dihadiri InfoSAWIT.
Dalam penelitian itu disimpulkan status lahan areal kebun 8 PSB dan 15 KSS sudah bukan merupakan kawasan hutan saat izin usaha perkebunan kelapa sawit diterbitkan namun ada 1 KSS yanng masih berupa APK kehutanan.
Sementara riwayat penggunaan lahan PSB 3 tahun sebelum izin usaha sebagian besar sebagai hutan, sedangkan 2 dan 1 tahun sebelum izin usaha sebagai perkebunan, lain halnya dengan KSS yang sebagian besar lahannya tidak digunakan baik 3 tahun, 2 tahun, maupun 1 tahun sebelum izin usaha. Hal ini sesuai dengan hasil tutupan lahan PSB yang dahulu didominasi oleh perkebunan karet dan hutan sekunder, sedangkan untuk KSS, sebagian besar wilayahnya dahulu berupa tanah terbuka.
Tutur Prof Yanto, penelitian yang dilakukan itu juga bukan kategori sebagaisample, sebab untuk daerah lain perlu dilakukan penelitian secara mendalam, namun dari hasil penelitian itu di lokasi yang diteliti kebun sawitnya bukan berasal dari deforestasi. “Masalahnya ada salah persepsi, sebab sebenarnya penelitian ini bukan sebagai sampling,” tandas dia. (T2)







