Berita Lintas
sawitbaik

MAKSI Mengajak Masyarakat Banggakan Sawit



MAKSI Mengajak Masyarakat Banggakan Sawit

Info SAWIT, PEKANBARU - Pada acara pembekalan sawit kepada para atase perdagangan dan direktur Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di luar negeri di Pekanbaru 27- 28 Februari 2017 yang diselenggarakan oleh Direktorat Kerjasama Pengembangan Ekspor, Kementerian Perdagangan RI, Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia  (MAKSI) mengajak agar bangsa Indonesia menjadikan sawit sebagai kebanggaan rakyat dan pemetintah.

Hortikultura telah menjadi kebanggann rakyat Thailand, tebu menjadi kebanggan rakyat Brazil, dan peternakan menjadi kebanggaaan rakyat Selandia Baru. Menurut Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), Darmono Taniwiryono, ekspor sawit per tahunnya mampu menyumbangkan devisa lebih dari US$ 15 milyar. Pada rangkaian APEC First Senior Officials Meeting (SOM1), di Vietnam 22-23 Februari 2017, dikabarkan sawit ditetapkan sebagai "Development Products" yaitu produk yang berkontribusi terhadap keberlanjutan dan pertumbuhan inklusif melalui pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan.

FGD Strategi Pengembangan Ekspor dan Rantai Nilai Sustainable Palm Oil Indonesia dan Field Trip Perkebunan Sawit yang diselenggarakan di Pekanbaru, belum lama ini merupakan wadah yang penting bagi para perwakilan perdagangan di luar negeri untuk mengetahui dan mengenal sawit lebih dalam sehingga secara konfiden dapat meyakinkan para calon konsumen CPO dan PKO serta berbagai produk turunannya di luar negeri.

Para atase perdagangan dan direktur ITPC merupakan garda terdepan untuk menyampaikan mana yang mitos dan mana yang fakta dalam menangkis isu-isu negatif yang sengaja dibangun oleh kompitetor minyak nabati dunia yaitu minyak kedelai, rapeseed, dan jagung.

Menurut Darmono, yang tidak tahu sawit tetapi berbicara negatif tentang sawit tidak hanya bangsa asing tetapi bangsa Indonesia sendiri. Opini negatif sawit telah merasuk di pemikiran para pemuda kita yang kini di bangku SMA dan perguruan tinggi, yang katanya sawit merupakan penyebab kebakaran hutan, sawit tidak sehat, sawit rakus air, dan lain sebagainya. “Itu semua tidak benar,” katanya tegas.

Dari laporan beberapa lembaga yang kredibel, kebakaran yang terjadi di perkebunan kelapa sawit pada tahun 2015 hanya berkisar 7 sampai dengan 14% dari total kejadian kebakaran lahan di Indonesia. Dari segi gizi minyak sawit tidak ada yang menandingi. Minyak sawit khususnya minyak sawit merah dara (virgin red palm oil) mengandung pro-Vitamin A 800-1000 ppm dan Vitamin E 400 ppm.Vitamin E merupakan anti oksidan kuat yang bermanfaat bagi vitalitas kesehatan manusia.

Lantas bagaimana dengan penggunaan minyak sawit untuk produksi biodiesel? Tetap saja bahan baku dari sawit lebih sustainable dibandingkan dengan biodiesel dari kedelai yang dirpoduksi di Amerika Serikat. Karena menurut data yang disampaikan Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), produktivitas biodiesel per satuan luas perkebunan kelapa sawit 10 kali lebih produktif dari kedelai.

Dengan demikian nilai pengurangan emisi oleh sawit jauh lebih besar dari tanaman kedelai. Apalagi seluruh biomasa sawit (cangkang, sabut, tandan kosong, batang dan pelepah sawit) dikonversi menjadi energi.  Menurut Darmono, masih banyak yang bisa dilakukan untuk meningkatkan daya saing biodiesel sawit Indonesia yaitu dengan meningkatkan efisiensi pemupukan, efisiensi penggunaan alat angkut, melakukan perangkapan dan pemanfaatan gas metana, dan penggunaan lahan terdegradasi untuk pengembangan sawit. “Di Indonesia saat ini masih tersedia sekitar 24 juta hektar lahan kritis. Seharusnya itu bisa digunakan untuk pengembangan sawit,” tandas Darmono. (T2)