Berita Lintas
sawitbaik

Diplomasi ‘DevPro’ Indonesia di Forum APEC



Info SAWIT, JAKARTA - Diplomasi sering bekerja dalam senyap, padahal dampaknya – berhasil atau tidak – sering sangat luas. Hal itu juga yang akan dilakukan beberapa diplomat ekonomi dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri Indonesia di Vietnam tahun ini, dimulai dengan pertemuan di NaTrang Vietnam akhir Februari 2017 lalu . Didukung oleh beberapa pakar dari IPB, Indonesia tengah meneruskan diplomasi penting soal Development Products di forum APEC.

Development   Products   (DevPro)   adalah   sebutan   untuk   produk-produk   yang berkontribusi pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif melalui pembangunan pedesaan dan pengurangan kemiskinan (RDPA/rural development and poverty alleviation).

Intinya, DevPro adalah kategori produk yang dalam proses produksi dan perdagangannya  berdampak  luas  bagi  pendapatan  kelompok  miskin,  petani  dan nelayan kecil, dan   masyarakat pedesaan, sehingga jika perdagangan produk-produk itu ditingkatkan akan berdampak positif bagi peningkatan sosial ekonomi masyarakat; dan sebaliknya, jika dihambat akan berdampak buruk bagi kesejahteraan  kelompok masyarakat tersebut.

Usulan mengenai perlunya kebijakan yang promotif terhadap perdagangan DevPro di antara negara APEC diajukan Indonesia pada pertemuan para pemimpin APEC tahun

2013 di Bali, dan terus dibahas di pertemuan APEC berikutnya 2014 di Beijing, 2015 di Manila, dan 2016 di Lima, Peru. Sayangnya hingga saat ini belum banyak kemajuan material dari rangkaian perundingan ini, dan perjuangan diplomasi itu akan dilanjutkan di forum APEC yang tahun 2017 ini dilaksanakan dengan Vietnam sebagai tuan rumah. Saat ini 7%-20% penduduk negara-negara maju (developed economies) APEC dan

20%-60%  penduduk  negara-negara  sedang  berkembang  (developing  economies) APEC tinggal di pedesaan. Di Papua Nugini bahkan 87% penduduknya adalah penduduk pedesaan dan di Vietnam angka itu mencapai 67%. Di sisi lain, sebagian besar penduduk miskin di dunia tinggal di pedesaan, bahkan pada beberapa negara APEC 80% penduduk miskinnya tinggal di pedesaan.

Berbagai kajian telah menunjukkan bahwa perdagangan – baik domestik dan internasional – memiliki dampak nyata terhadap pengurangan kemiskinan dan pembangunan pedesaan (RDPA). Dampak tersebut dapat bersifat positif (mengurangi kemiskinan, mendorong kemajuan) tetapi juga dapat berupa ancaman (kalah bersaing, hilangnya pangsa pasar). Namun dampak netto perdagangan terhadap RDPA cenderung selalu positif.

Negara-negara APEC akan hadir di Vietnam dengan membawa kesepakatan sebelumnya tentang adanya 157 produk yang telah disepakati sebagai DevPro atau produk yang berdampak besar bagi RDPA di kawasan APEC.

Dari 157 produk itu, 15 produk di antaranya adalah usulan Indonesia yaitu perikanan (2 produk/kode HS), sawit (4 produk), karet (1 produk), rotan (3 produk), dan kertas (5 produk). Indonesia melakukan ekspor bukan hanya untuk 15 produk yang diusulkan tersebut, tetapi juga mengekspor hampir seluruh 157 jenis produk yang telah disepakati.

Tahun 2015 ekspor Indonesia untuk ke-15 produk usulan ke negara-negara APEC mencapai US$5,8 miliar, sedangkan ekspor yang sama ke seluruh dunia mencapai US$17,8 miliar. Ekspor Indonesia untuk 157 produk DevPro ke APEC mencapai US$13,6 miliar (13% dari total seluruh ekspor Indonesia ke APEC), dan ekspor Indonesia untuk 157 produk ke seluruh dunia mencapai US$28,2 miliar (18,7% dari total seluruh ekspor Indonesia). Angka-angka tersebut cukup besar dan penting untuk diperjuangkan. (Bayu Krisnamurthi, Ketua Perhepi)

Lebih lengkap baca InfoSAWIT Edisi Maret 2017