Kuala Lumpur – Munculnya kebara skim penghitungan Greenhaouse Gases (GHG) yang bakal diterapkan di seluruh perkebunan kelapa sawit di dunia, tidak terkecuali petani, ditanggapi pihak petani.
Menurut penuturan pihak Yayasan Setara Jambi, Sahadi, kendati saat ini ada beberapa kelompok petani yang mendapat sertifikat RSPO skim petani swadaya, faktanya baru pada tahap perubahan pola berbudidaya kelapa sawit yang selaras dengan lingkungan.
Jika lebih jauh terkait dengan munculnya skim yang harus diterapkan ke petani, kata Sahadi, masih jauh dari pikiran petani. “Untuk mengubah pola ke budidaya yang lebih baik saja sulit, apalagi terkait skim GHG, belum ada dalam pikiran kami,” katanya kepada InfoSAWIT, Rabu (19/11) di Kuala Lumpur.
Sekadar Info, yayasan Setara Jambi telah menghantarkan Gapoktan Tanjung Sehati, yang beranggotakan 6 Kelompok Tani, dengan total anggota mencapai 227 orang, mendapat sertifikat RSPO pada Juli 2014 lalu. “Lahan yang mendapat sertifikat mencakup lahan milik sebanyak 214 orang, ini karena ada yang membudidayakan komoditas selain sawit,” kata Sahadi menerangkan. (T2)










