Info SAWIT, JAKARTA – Munculnya peringatan penggunaan minyak sawit oleh Otoritas Keamanan Makanan Uni Eropa (EFSA), didorong adanya dugaan minyak sawit memicu kanker akibat kontaminen pada suhu diatas 200 derajat celcius, dibandingkan minyak nabati lainnya pada Mei 2016 lalu. Lantas pada Januari 2017, Jurnal Nature menerbitkan studi yang menunjukkan bahwa asam palmitat (bagian utama dari minyak sawit) meningkatkan metastasis (penyebaran kanker) melalui CD36 - protein tertentu yang ditemukan dalam sel-sel kanker yang bertanggung jawab untuk mengambil asam lemak.
Namun demikian dikatakan peneliti senior Teknologi Makanan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Donald Siahaan, kendati glycidyl fatty acide esters (GE) telah terbukti karsinogenik, tidak menjamin menyelesaikan masalah dengan melakukan pelarangan penggunaan minyak kelapa sawit. Lantaran, pertama, belum ada standar internasional telah ditetapkan untuk konsentrasi GE dalam minyak sawit dan kontaminan alami ada dalam banyak makanan. “Termasuk yang diproses dari kedelai," tutur Donald Siahaan seperti dilansir SciDev.Net.
Kedua, penelitian mengenai GE masih terbatas pada skala laboratorium. Lantaran makanan adalah produk komplek, apa yang terjadi di laboratorium tidak selalu terjadi dalam tubuh manusia karena ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi reaksi kimia. Dikatakan Donald Siahaan, hanya dengan melakukan studi epidemiologi jangka panjang yang melibatkan sejumlah besar peserta dan dilakukan selama setidaknya sepuluh tahun, dapat menetapkan tingkat risiko dalam mengonsumsi minyak sawit. (T2)










