Info SAWIT, JAKARTA - Masalah minyak sawit Indonesia (CPO) yang dihambat parlemen Eropa diduga karena persaingan bisnis. Apalagi parlemen Eropa sendiri tidak pernah menjelaskan alasan yang jelas. “Termasuk data soal pelanggaran HAM mempekerjakan anak-anak, penggundulan hutan (deforestasi) dan korupsi. Itul tak pernah dijelaskan,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron dalam dialektika demokrasi ‘Lawan Parlemen Eropa’ bersama anggota Komisi IV DPR RI F-NasDem Hamdhani, mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih, dan Staff Ahli Bidang Diplomasi Perekonomian Kemenlu, Ridwan Hassan Sahli di Gedung DPR RI belum lama ini.
Menurut Herman, pengalihan fungsi hutan dengan cara apapun disebut deforestasi. Apakah ditanami kelapa sawit, kedelai, bunga matahari dan pertanian lainnya itu namanya deforestasi dan itu legal. “Alih-alih etika lingkungan, lalu melarang sawit Indonesia. Untuk ke dalam kita introspeksi terhadap eksploitasi alam yang telah dilakukan, dan keluar, kita lawan sikap parlemen Eropa itu,” ujarnya.
Namun, kata Politisi Partai Demokrat, apa yang disampaikan parlemen Eropa itu, tidak mengikat karena bersifat himbauan. “Saya melihat sikap Eropa itu hanya untuk melindungi komoditas pertanian mereka. Karena minyak sawit ini sangat efisien dan ramah lingkungan, sehingga terjadi persaingan sangat ketat, lalu ditarik ke politik,” tambahnya.
Sejauh itu kata Herman, sikap Eropa ini sebagai standing point yang kuat untuk melindungi petaninya, karena itu sikap Eropa tersebut mengada-ada. “Indonesia sudah komitmen untuk menjaga hutan sebagai paru-paru dunia, dan tidak masalah mengembangkan pertanian untuk menyejahterakan rakyatnya selama tidak melanggar UU,” pungkasnya.
Hamdhani juga menilai sikap Eropa tersebut akibat terjadi persaingan bisnis yang kuat. Mereka akan menanam gandum untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya membutuhkan sekitar 15 ribu hektar tanah, tapi tidak bisa. “Kalau alasannya deforestasi, Eropa justru lebih buruk dengan banyak membuat alat-alat berat yang merusak lingkungan,” kata politisi asal Kalimantan Selatan ini. (T2)







