Info SAWIT, JAKARTA – Dikatakan Ketua Komisis Pangan dan Pertanian Dewan Riset Nasional, Haryono, jika dulu badan litbang pertanian masih bersifat koorinasi dalam pengelolaan riset kelapa sawit nasional, dipastikan saat ini akan fokus dalam memperdalam riset-riset tentang kelapa sawit.
Lebih lanjut dikatakan Haryono, banyak sektor yang bisa dijadikan fokus riset, semisal penghitungan Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan kelapa sawit, penyerapan air sampai pengeolaan limbah.
Secara umum, periset di Indonesia sejatinya telah melakukan lompatan besar kendati baru sekadar temuan atau invensi, namun bisa dikembangkan menjadi inovasi dan bisa diaplikasikan secara masal.
“Indonesia telah menjadi produsen utama kelapa sawit di dunia, sebab itu sektor kelapa sawit harus mendapatkan perhatian yang serius dan memadai, termasuk pembiayaan mengenai riset baik dari hulu sampai hilir, supaya ketersediaan hasil riset hulu-hilir bisa sustainable dan diharapkan akan terusm lebih baik,” katanya kepada InfoSAWIT, di sela-sela acara Diskusi Kelapa Sawit bertema “Inovasi dan Teknologi Terkini dalam Upaya Meningkatkan Produktivitas Kelapa Sawit Secara Berkelanjutan”, belum lama ini di Jakarta.
Keterbukaan riset juga menjadi salah satu solusi dalam pengembangan riset, dengan berbasis “open riset” maka kegiatan plagiarisme bakal bisa dideteksi lebih cepat. Sementara pengembangan riset lanjutan juga bisa dilakukan. Cara demikian harapannya bakal mendongkrak riset kelapa sawit nasional. “Tidak ada daya saing komoditas yang tidak diawali dengan inovasi, lantas inovasi tidak akan tejadi kalau anggarannya tidak cukup, sebab itu dibutuhkan anggaran dengan jumlah yang cukup,” tandas Haryono. (T2)







