Berita Lintas
sawitbaik

APEC ke 23 di Hanoi, Dorong Keterbukaan Perdagangan di Asia Pasifik



InfoSAWIT, HANOI Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita akan menghadiri pertemuan tahunan Menteri Perdagangan Ekonomi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Pertemuan ke- 23 atau the 23rd APEC Ministers Responsible for Trade (MRT) Meeting akan berlangsung pada 20- 21 Mei 2017 di Hanoi, Vietnam.

Di tengah berkembangnya kecenderungan proteksionisme di beberapa negara maju, Mendag bersama 20 Menteri Perdagangan ekonomi APEC lainnya akan mendiskusikan strategi menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi, kelancaran perdagangan, dan investasi di kawasan Asia Pasifik. Vietnam yang menjadi tuan rumah pertemuan APEC tahun ini mengangkat tema 'Creating New Dynamism, Fostering a Shared Future', dengan prioritas peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, inklusif dan inovatif, integrasi ekonomi regional, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peningkatan ketahanan pangan dan pertanian yang berkelanjutan.

Pertemuan MRT tersebut didahului rangkaian pertemuan teknis terkait perdagangan dan investasi serta pertemuan para Pejabat Senior APEC. MRT juga akan membahas upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang merata, rantai pasok global, konektivitas dan infrastruktur, termasuk peningkatan daya saing UMKM.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo, hadir pada pertemuan Pejabat Senior APEC pada 17-18 Mei 2017 mengatakan bahwa APEC mempunyai daftar pekerjaan yang cukup panjang. Pencapaian Bogor Goals pada tahun 2020 yaitu perdagangan dan investasi yang terbuka di kawasan Asia Pasifik, adalah salah satu di antaranya.

“Agenda keterbukaan perdagangan dan investasi yang digagas pada pertemuan APEC tahun 1994 di Bogor masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Yang paling utama adalah bagaimana agar manfaat keberadaan APEC dapat dirasakan secara merata di semua lapisan masyarakat,” ujar Iman dalam rilis yang diterima InfoSAWIT.

Selain itu, Iman juga menekankan pentingnya agenda pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan guna mengatasi jurang kesejahteraan di kawasan Asia Pasifik. Dengan agenda yang diprakarsai oleh Indonesia ini, anggota APEC diharapkan dapat terus memikirkan bagaimana keterbukaan perdagangan dan investasi dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk perbaikan taraf hidup masyarakat desa.

Tahun ini, para Menteri Perdagangan ekonomi APEC juga akan membahas bagaimana kelanjutan dan relevansi APEC setelah tahun 2020. Hal ini karena salah satu tujuan APEC yang dicetuskan pada tahun 1994 di Bogor, yaitu untuk mencapai perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka pada tahun 2020, telah mencapai masanya. (T2)