InfoSAWIT, PALAS - Sejumlah petani kelapa sawit di Kabupaten Padang Lawas (Palas) merasa dianaktirikan. Pasalnya, sampai kini mereka masih kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi, sedangkan harga beli pupuk non subsidi masih dirasa cukup mahal.
Padahal, saat ini produksi hasil panen sawit petani sedang turun, sehubungan musim trek buah sawit yang berkepanjangan. Rata-rata, hasil panen sawit turun di kisaran 20 hingga 50% . Sedangkan, harga jual tandan buah segar (TBS) sawit hanya mengalami kenaikan tipis, yakni Rp 20-Rp 30/kg menjadi Rp 1.680/kg.
"Masyarakat saat ini mudah dapat BBM subsidi, mudah dapatkan elpiji subsidi. Tapi, petani sawit tidak pernah mudah dapat pupuk subsidi secara rutin. Jika pun ada pupuk di kios pengecer selalu dibatasi, sehingga petani selalu kesulitan untuk berproduksi secara optimal," kata Alamsyah, petani sawit di Kecamatan Hutaraja Tinggi (Huragi), kepada wartawan, belum lama ini dikutip MedanBisnis.
"Sudah lah harga jual buah sawit anjlok, ditambah pula sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi. Maka lengkap lah sudah, penderitaan masyarakat Palas yang mayoritas menggantungkan hidup dengan bertani kelapa sawit ini," keluh Alamsyah lagi
Menurut Alamsyah, seharusnya Pemkab Palas cepat tanggap dan paham kondisi masyarakatnya, khususnya para petani.
"Karena faktanya, di Kecamatan Huragi ini, mayoritas masyarakat bertani sawit. Jadi, di saat produksi sawit turun, harga jual juga kurang baik, kebun sawit udah butuh pupuk. Pemerintah sudah siapkan stok pupuk subsidi seharusnya," pinta Alamsyah. (T2)










