InfoSAWIT, SANGATTA - Petani Desa Teluk pandan, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur, mengaku kesulitan dalam memasarkan hasil panen padi.
“Produksi kita banyak tapi kendalanya di penjualan. Itu yang menjadi permasalahan petani disini,” ujar Baharudin, petani padi di RT 03 Desa Teluk Pandan.
Masuknya beras dari luar Kalimantan yang membuat beras lokal kurang diminati. Selain harga beras yang lebih murah, beras dari luar juga dibayar dengan sistem utang. “Kemarin katanya banyak beras dari Sulawesi, harganya Rp 9.000, sementara beras kita Rp 10.000, jadi kita juga turunkan harganya. Belum lagi beras disana bisa diutang. Didatangkan dulu baru dibayar,” kata Baharuddin dikutip kliksangatta.com.
Untuk saat ini, pemasaran beras petani Teluk Pandan dilakukan dari mulut ke mulut , dan sebagian besar diperjual belikan terbatas di kalangan masyarakat desa sekitar. “Kita paling jualnya orang-orang sini aja. Kalau produksi kita banyak baru tidak ada pembeli sama aja. Tinggal numpuk di sini,” katanya.
Karena ketidakpastian pemasaran dan persaingan harga yang ketat dengan beras dari luar Kalimantan, sejumlah petani di Desa Teluk Pandan memilih untuk beralih ke perkebunan sawit. “Sudah banyak petani yang jadikan petani sawit disini, itu karena tidak ada pembeli yang pasti, sementara petani juga perlu hidup,” tuturnya. (T2)










