InfoSAWIT, JAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyayangkan kampanye negatif tentang minyak sawit di tanah air tidak hanya datang dari luar negeri, namun juga dari dalam negeri. Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono mengatakan berbagai isu negatif tersebut terkait kebakaran hutan, pengelolaan lahan gambut, penguasaan segelintir korporasi besar atau konglomerasi dalam sektor perkebunan kelapa sawit nasional.
Joko menerangkan, dalam isu negatif juga menyangkut hak masyarakat adat dan ulayat, isu pertahanan dan tata ruang wilayah, ketenagakerjaan, dan berbagai isu sosial lainnya.
Dalam hal ini, ketua GAPKI mengungkapkan, Malaysia yang sebagai produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, seluruh kelompok masyarakatnya mendukung penuh keberadaan dan keberlanjutan sektor perkebunan kelapa sawit, dalam rilis resmi yang diterima InfoSAWIT.
Data Oil World pada 2016, konsumsi minyak nabati dunia mencapai 177 juta ton dengan rerata tambahan kebutuhan konsumsi mencapai 5 juta ton/tahun. Kebutuhan konsumsi tersebut antara lain dipenuhi oleh minyak sawit sebesar 64 juta ton, kacang kedelai 53,15 juta ton, rapeseed 27,65 juta ton, minyak bunga matahari 15,55 juta ton, dan sisanya oleh minyak nabati lain seperti kacang, kelapa, dan zaitun.
Bahkan di Amerika dan Uni Eropa sendiri, ada lebih dari seratus jenis produk makanan dan produk-produk consumer goods nonpangan seperti kosmetik, pasta gigi, deterjen, dan lainnya, yang berbahan baku minyak sawit. Saat ini hingga 20 tahun ke depan, mungkin industri consumer goods yang berada di Amerika dan negara-negara Eropa Barat masih akan sangat menggantungkan keberlangsungan usahanya dengan bahan baku minyak sawit.
Dibandingkan tanaman minyak nabati lain, produktivitas sawit adalah yang tertinggi yaitu 3,5 ton minyak sawit per hektare (ha)/tahun. Dengan produktivitas tersebut, hanya dengan lahan 20 juta ha di seluruh dunia, perkebunan kelapa sawit bisa menghasilkan minyak nabati lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman pesaing.
Pada 2016, produksi minyak sawit dunia mencapai 60,5 juta ton atau menguasai pangsa pasar 29,4% dari total produksi minyak nabati dunia. Jika dibandingkan, kacang kedelai yang menguasai lahan 121,9 juta ha, hanya menghasilkan 51 juta ton atau 24,8% dari total produksi minyak nabati dunia, ungkap Joko.
Untuk itu, ia memaparkan bahwa mengembangkan perkebunan kelapa sawit lebih baik jika dibandingkan dengan mengembangkan perkebunan kedelai atau tanaman minyak nabati lainnya. Ketua Umum GAPKI tersebut memahami bahwa dibutuhkan waktu untuk seperti negara tetangga, yang seluruh masyarakatnya mendukung dan menunjukkan hal positif dari keberadaan sawit. (T4)







