InfoSAWIT, JAKARTA – Setelah dilakukan akusisi terhadap saham Eagle High Plantation (EHP) sejumlah 37%, yang dilakukan anak usaha Felda, FIC Properties Sdn Bhd dengan nilai transaksi sekitar US$ 500 juta. Kabarnya, akuisisi itu mendorong pengeluaran Felda lebih tinggi dalam proses membangun kebun EHP.
Termasuk ada dugaan penipuan laporan perusahaan EHP dimana baru seluas 1/3 lahan EHP yang memiliki Hak Guna Usaha (HGU) atau seluas 51.108 ha. International Palm Oil Monitor (IPOM) mencatat, jika baru sepertiga lahan yang memiliki HGU maka masih dibutuhkan pendanaan yang tinggi untuk memperoleh HGU untuk seluruh luasan lahan EHP. Belum lagi catat IPOM, lahan yang didominasi pohon belum menghaslkan mencapai seluas 40% dari total areal, tentu saja ini bakal membutuhkan pendaan yang tidak sedikit.
Belum lagi sebagian besar IUP (Izin Usaha Perusahaan) yang dimiliki perusahaan telah habis masa berlakunya, dan akan memerlukan waktu yang lama dan biaya yang signifikan untuk memperbarui, dan tunduk pada ketidakpastian dalam proses persetujuan jika ditantang oleh masyarakat setempat.
Masalah ini catat IPOM, mendorong Felda bakal menjual sahamnya di FGV yang tercatat ke EHP (termasuk di Grup Rajawali) dan pihak terkait yang dipimpin oleh Martua Sitorus dari Wilmar.
Namun, mengingat fakta di atas, kita harus bertanya-tanya bagaimana sebuah perusahaan dalam kesulitan finansial yang mengerikan akan dapat membiayai akuisisi tersebut? Apakah ini hanya kesempatan bagi rekayasa ulang keuangan lainnya untuk melapisi kantong pemegang sahamnya yang memiliki hubungan sangat baik dan menyebabkan lebih banyak penderitaan bagi pekerja keras petani kecil dan pemukim di Malaysia dan Indonesia?
Perwakilan FELDA di dewan FGV memutuskan untuk menolak kesepakatan tersebut, namun saat ini telah menerima kesepakatan yang sebelumnya ditolak FGV tersebut.
Di pihak Malaysia, apa yang akan terjadi setelah pelepasan saham Felda di FGV?, ini tentu saja sangat menyedihkan lantaran Felda yang sebelumnya dianggap sebagai lembaga yang mampu menerapkan pemberantasan kemiskinan paling sukses di dunia, bakal melepas lahan yang dimilikinya di Malaysia. “Serta kehilangan kendali atas industri yang telah diakui secara global akhir-akhir ini dimiliki Malaysia,” catat IPOM. (T2)







