InfoSAWIT, JAKARTA - Asosiasi Petani Sawit Swadaya Amanah membina dan mengarahkan petani sawit untuk mengelola sawit. Hal ini dilakukan agar menjadi petani “sakti” untuk meningkatkan produktivitas pertanian sawit.
Dengan luas lahan sekitar 1.048 hektar (ha), dijelaskan mulai dari cara menanam, merawat, memupuk, hingga memanen sawit sesuai arahan dari salah satu perusahaan produsen kelapa sawit di Indonesia yang juga sebagai mitra.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Swadaya Amanah, Narno, mengatakan, lebih dari 90% anggota merasakan manfaat setelah menjadi anggota asosiasi itu, seperti yang dilansir Kompas. Salah satu perubahan itu misalnya berdampak pada peningkatan produksi.
“Dulu nilai aset kebun rata-rata di bawah Rp 200 juta, sekarang meningkat jadi sekitar Rp 400 juta. Sedangkan petani yang tidak ikut asosiasi selisihnya bisa lebih dari Rp 100 juta,” ungkapnya, rabu lalu, di Jakarta.
Hal itu bisa dicapai tak lain karena mereka menjalankan sistem sesuai arahan. Misalnya, untuk proses panen, penimbangan, dan pengiriman ke perusahaan mitra langsung, kata Narno, bisa dilakukan pada hari yang sama.
Untuk mendukung pengerjaan harian, mereka juga punya kantor operasional di Desa Tri Mulya Jaya, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Saat ini, ada 501 anggota yang bergabung di dalamnya dan tersebar di tiga desa di kecamatan tersebut.
Narno menambahkan, Akses jalan menuju lahan mereka juga diperbaiki oleh perusahaan mitra supaya lebih mudah dilalui. Lalu, keamanan lahan lebih terjaga sehingga tingkat kehilangan buah juga sangat minim.
Tak hanya itu, para petani juga dibina untuk melaksanakan praktik yang terdiri unsur pribadi, pekerja, dan lingkungan. Unsur pribadi adalah mengatur situasi sesuai aturan. Lalu unsur pekerja yaitu memperhatikan hak pekerja, serta tidak mempekerjakan anak-anak, ibu hamil, dan orang tua, ungkap Narno.
Adapun unsur lingkungan maksudnya tidak memakai herbisida atau bahan kimia yang berlebihan sehingga tanah tetap terjaga kesuburannya dan bisa digarap oleh generasi selanjutnya.
Tambahnya, para anggota Asosiasi Amanah ingin agar usaha yang mereka lakukan bisa berkelanjutan. Artinya, bisa diteruskan ke anak dan cucu mereka. Nyatanya, prinsip tersebut sejalan dengan program yang dijalankan oleh Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). (T4)










