Berita Lintas
sawitbaik

Riset China Kian Unggul Termasuk Sektor Sawit



Riset China Kian Unggul Termasuk Sektor Sawit

InfoSAWIT, CHINA – China, adalah negara yang tengah banyak dibicarakan masyarakat dunia terkait pertumbuhan pesatnya dibidang ekonomi. Salah satu pertumbuhannya adalah disektor sawit.

Diketahui, negara Tiongkok tersebut tidak memiliki lahan perkebunan sawit. Namun, negara tirai bambu itu memiliki downstream Crude Palm Oil (CPO) terluas di dunia. Dengan 17 juta mahasiswa, yang mayoritas mengambil bidang sains dan teknik dan setiap tahun menghasilkan tidak kurang dari 325,000 insinyur, China mampu membuat oleokimia, oleo pangan, dan oleo non food/eleo non-edible.

Barang-barang seperti minyak goreng, mentega, sabun, produk kecantikan, dan lainnya yang dihasilkan dari ribuan industri hilir CPO bisa dengan mudah didapatkan China. Hal ini karena visi China untuk menjadi negara industri modern.

Setiap tahun china membelanjakan USD 60 milyar untuk riset-riset penelitian dan pengembangan. Sekarang ini, China secara besar-besaran mendukung inovasi kaum wirausahawan menghasilkan produk yang berkualitas dan murah. Hasil tersebut dapat dilihat dari nilai ekspor produk turunan CPO China yang lebih besar daripada nilai penerimaan devisa kita sebagai penghasil CPO.

Jika Amerika Serikat memiliki Silicon Valley, maka negara Tiongkok ini mempunyai Qingdao. Kota nelayan ini memiliki Laoshan yang merupakan kawasan indah berhawa sejuk dan ditetapkan sebagai kawasan Industri High Tech. Dikawasan inilah berdiri berbagai Business High tech yang melakukan berbagai inovasi dibidang IT dan dari hal tersebut wilayah ini menghasilkan pendapatan lebih dari USD 40 milyar/tahun (lebih besar dari pendapatan MIGAS Indonesia).

Kemajuan China sekarang ini tidak bisa dipisahkan dari semangat kemandirian dari kaum terpelajar China yang merupakan komunitas elite. Mereka yang terdidik S1 hanya sekian/mil dari total populasi China. Namun, kesempatan untuk menjadi sarjana benar-benar dimanfaatkan rakyatnya, seperti yang dilansir CBC.

Diketahui, gaji seorang insinyur di Qingdao hanya 1/5 gaji insinyur di USA dan Eropa. Namun, dalam kualitas kerja baik dari China maupun Eropa sama-sama bagus dan berkualitas. Dengan biaya hidup di Qingdao yang murah, mengundang banyak perusahaan asing untuk berinvestasi dalam bentuk produk dengan memanfaatkan para Insinyur dari Qingdao. Disinilah terjadi sinergi yang hebat antara SDM, pasar dan tekhnologi.

Pertumbuhan China yang cepat juga karena terjadinya paradigma baru setelah era Deng, yaitu lahirnya newcomer entrepreneur dari kalangan kampus. Sebagian besar yang kini jadi 1000 orang kaya China adalah para sarjana alumni China Acedemic of Science.

Tantangan untuk menghadapi masa depan hanya dapat dijawab oleh kaum terpelajar dan hal itu didukung oleh kemauan mereka untuk berwiraswasta serta menjadi hero bagi keluarga dan bangsanya. Jadi, budaya suatu bangsa lah yang membuat bangsa itu kuat menghadapi perkembangan zaman di era globalisasi. Budaya mandiri di negara Tirai Bambu itu menjadikan China bisa berkembang sampai sekarang. Lalu, bagaimana dengan kita? (T4)