InfoSAWIT, WASHINGTON DC - Indonesia dan Amerika Serikat (AS) melakukan pertemuan guna membahas beberapa isu perdagangan dan investasi dalam kerangka Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA) pada Juni lalu. Beberapa isu yang yang akan dibahas Indonesia dalam perundingan adalah kerja sama Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), tuduhan dumping dan subsidi khususnya terhadap biodiesel Indonesia, ketentuan terkait produk makanan dan minuman di AS, serta isu perikanan.
Sementara itu, isu yang menjadi perhatian AS selain penegakan HaKI adalah regulasi Indonesia mengenai peredaran susu, tingkat kandungan dalam negeri (local content), lokalisasi data, dan national payment gateway.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kemendag Iman Pambagyo, yang juga selaku Ketua Delegasi Indonesia pada forum TIFA menjelaskan, pada pertemuan ke-16 tersebut, Indonesia dan AS menggunakan format yang sedikit berbeda. Pada TIFA sebelumnya seluruh isu teknis dinegosiasikan oleh Pimpinan Delegasi, namun kali ini Pemerintah Indonesia dan AS sepakat untuk melibatkan kementerian atau badan pemerintah terkait dari kedua negara yang menangani isu-isu teknis tersebut untuk berdiskusi langsung dengan mitra kerjanya. Pada pertemuan itu juga, beberapa diskusi teknis (breakout session) dilakukan secara parallel.
"Pertemuan nanti akan membahas arah kebijakan Pemerintah AS saat ini, di mana Indonesia mempunyai banyak sekali pertanyaan dan permintaan klarifikasi, misalnya mengenai Executive Order, perjanjian perdagangan AS dengan negara mitra dagangnya seperti NAFTA, serta kebijakan lainnya. Di lain pihak, AS juga ingin mengetahui arah kebijakan Indonesia saat ini termasuk sejumlah perundingan bilateral yang sedang dan akan dilakukan," ungkap Iman, seperti yang dijelaskan kepada InfoSAWIT.
Seperti yang diketahui, Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total perdagangan bilateral Indonesia-AS dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren negatif sebesar -2,78%. Pada 2016, total perdagangan kedua negara mencapai USD 23,44 milyar dan Indonesia mengalami surplus sebesar USD 8,84 milyar. Nilai ekspor (migas dan nonmigas) Indonesia ke AS mencapai USD 16,14 milyar, sedangkan nilai impor Indonesia dari AS tercatat sebesar USD 7,3 milyar.
Meskipun mengalami penurunan, AS tetap merupakan tujuan ekspor nonmigas ke-1 dengan nilai USD 15,68 milyar dan sumber impor nonmigas ke-5 Indonesia dengan nilai US$ 7,2 milyar.
Produk ekspor utama Indonesia ke AS antara lain udang, minyak petroleum, karet alam, alas kaki dan pakaian. Sementara impor utama Indonesia dari AS adalah kacang kedelai, katun, olahan untuk makanan hewan, ampas tebu berbentuk pellet dan pesawat terbang.
Iman menambahkan, pada kesempatan ini Indonesia akan menyampaikan non-paper mengenai penguatan dan restrukturisasi TIFA agar forum ini dapat benar-benar berkontribusi kepada peningkatan perdagangan dan investasi kedua negara.
Delegasi Indonesia pada pertemuan kali terdiri atas Dirjen PPI Kemendag (selaku Ketua Delegasi Indonesia), Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kemenko Perekonomian, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Deputi Bidang Pengendalian Penaman Modal BKPM, Direktur Perundingan Bilateral Kemendag, Direktur Amerika I Kemenlu, Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag, Direktur Kekayaan Intelektual dan Direktur Penyidikan Kemenkumham.
Selain itu, Kepala Pusat Program Transformasi Bank Indonesia, juga turut hadir untuk membantu menjawab seluruh perhatian AS dan memperjuangkan kepentingan Indonesia pada forum ini. Kepala BKPM Thomas Lembong yang kebetulan mengadakan kunjungan di Washington D.C. direncanakan menghadiri sesi dengan para pelaku usaha dan investor.
Dari pihak AS, delegasi dipimpin oleh Assistant to United States Trade Representative (USTR) Barbara Wiesel. USTR akan didukung oleh agensi Pemerintah AS lainnya seperti United States Department Of Commerce (USDOC), United States International Trade Commission (USITC), United States Food and Drug Administration (USFDA), National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Environmental Protection Agency (EPA), dan United States Patent and Trademark Office (USPTO).
Selain membahas isu teknis, kedua negara juga akan mengadakan pertemuan dengan para wakil bisnis. Pelaku usaha Indonesia yang hadir antara lain adalah anggota Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), dan Asia Pulp and Paper (APP), sedangkan dari pihak AS diwakili oleh para anggota dari US Chamber of Commerce dan US ASEAN Business Council (USABC).
"Susunan delegasi, baik dari Indonesia maupun AS, menunjukkan keseriusan kedua Pemerintah untuk meningkatkan hubungan bilateral yang saling menguntungkan. Hal ini sejalan dengan hasil pertemuan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Mike Pence pada April lalu di Jakarta. Indonesia berharap pertemuan TIFA dapat menghasilkan output yang sifatnya berorientasi dalam mendapatkan solusi, berimbang, dan saling menguntungkan," tutupnya. (T4)









