InfoSAWIT, JAKARTA - India diperkirakan menjadi importir utama dalam penjualan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) selama empat bulan berturut-turut.
Berdasarkan survei Bloomberg yang melibatkan lima responden termasuk pialang dan analis, impor CPO India bakal meningkat 21% year on year (yoy) pada Mei 2017 menjadi 798.000 ton. Ini menandakan kinerja pengapalan masuk importir CPO terbesar di dunia itu bertumbuh selama 4 bulan berturut-turut, seperti yang dilansir Tempo.
Lalu, total pembelian minyak nabati pada Mei 2017 naik sekitar 29% menjadi 1,32 juta ton. Adapun Asosiasi Ekstraktor (Solvent Extractors’ Association of India/ SEA) akan merilis data resmi pada pertengahan bulan ini.
Lanjutnya, pada penutupan perdagangan Senin lalu, harga CPO kontrak Agustus 2017 di bursa Malaysia meningkat 13 poin atau 0,53% menuju 2.457 ringgit (US$576,08)/ton. Sepanjang tahun berjalan harga merosot 16,7%.
Chief executive officer perusahaan broker minyak nabati Sunvin Group Sandeep Bajoria mengatakan, harga CPO menurun dalam 5 bulan berturut-turut, yang menjadi pemerosotan terpanjang sejak 2005. Lesunya harga terjadi karena pasar mengantisipasi pemulihan produksi di Indonesia dan Malaysia setelah dampak kekeringan El Nino menghilang.
tambahnya, antisipasi pertumbuhan pasokan membuat harga CPO global merosot sekitar 20% sepanjang 2017. Sentimen ini menguntungkan negara importir seperti India, karena masih mengandalkan pasokan dari negara lain untuk memenuhi 70% kebutuhan minyak masaknya.
Head of research Karvy Comtrade Ltd. Veeresh Hiremath menjelaskan, sisi permintaan juga terangkat saat bulan Ramadhan, di samping sejak awal tahun harga global yang melemah. Negara-negara importir pun meningkatkan penyetokan.
Survei Bloomberg juga menunjukkan, impor minyak kedelai India meningkat 91% yoy pada Mei 2017 menjadi 340.000 ton. Negeri ini menyerap minyak kedelai dari Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina. (T4)







