InfoSAWIT, PANGKAL PINANG - Kini setelah dua tahun bekerja, BPDP-KS pun mengklaim dengan keberhasilan mendorong pemanfaatan biodiesel hingga program itu mencapai B20 (campuran biodiesel sebanyak 20% ke minyak solar), telah pula mendongkrak harga CPO di dunia.
Dari catatan InfoSAWIT, jika sepanjang 2015 lalu harga rata-rata CPO di dunia hanya mencapai US$ 614,55 per ton, maka setelah efektif melakukan pungutan pada Juli 2015 dan kontrak biodiesel di akhir tahun 2015 serta realisasi serapan di sepanjang 2016, harga minyak sawit dunia, merujuk harga CIF Rotterdam pada 2016, terjadi peningkatan harga rata-rata sekitar 12,5% atau harga rata-rata minyak sawit mencapai US$ 703,14 per ton.
Kendati demikian, klaim tersebut belum bisa dipastikan apakah benar mampu mendongkrak harga CPO di dunia, lantaran harga CPO tergantung dari berbagai macam faktor termasuk kondisi cuaca serta pasokan dan suplai.
Buktinya kini harga CPO kembali merosot, sejak Januari 2017 harga CPO di dunia menujukkan tren menurun sekitar 5% per bulan, jika di Januari harga CPO masih bertengger di US$ 824,4 per ton, maka di April 2017 melorot menjadi US$ 691,25 per ton. Sementara merujuk informasi dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), harga CPO pada Mei diperkirakan stagnan berada pada kisaran US$ 680 – US$ 720 per ton.
Kendati demikian kata Direktur Utama BPDP-KS, Dono Boestami, dengan peningkatan harga CPO tersebut maka kontribusi kehadiran BPDP-KS terbukti ada, walaupun besaran kontribusinya belum bisa dipastikan seberapa.
Sebab itu, saat ini pihak BPDP-KS akan melakukan kajian harga yang melibatkan konsultan. Dimana penunjukan konsultan tersebut masih dalam proses. Harapannya dengan melakukan kajian ini akan bisa memberikan gambaran satu siklus harga minyak sawit hingga tahun 2024.
Dari kajian itu bisa pula dilakukan untuk melihat dan menentukan prediksi harga minyak sawit sawit kedepan. Termasuk untuk memberikan juga gambaran seberapa besar kontribusi pungutan itu terhadap lonjakan harga. (T2)







