Berita Lintas
sawitbaik

Dari Riset Limbah Sawit, Achmad Solikhin Raih Schweighofer Prize



Dari Riset Limbah Sawit, Achmad Solikhin Raih Schweighofer Prize

InfoSAWIT, BOGOR - Achmad Solikhin, seorang mahasiswa IPB berhasil memenangkan Schweighofer Prize 2017 di Austria. Dengan mendaftar dari kampus Shizouka University, yang saat itu juga ia tengah mendaftarkan disertasinya pada program Pendidikan Magister Menuju Doktor Untuk Sarjana Unggul (PMDSU), penghargaan itu berhasil diraih dari pemanfaatan limbah kelapa sawit.

Dalam risetnya yang bernama teknologi super hydrophobic, dibuat untuk penguat film nano komposit. Penggunan film berbasis nano yang dihasilkan nantinya akan cukup beragam, di antaranya dipakai untuk katup jantung, lensa mata dan juga dapat meningkatkan niat jual kayu ke depannya

Diungkapkan, super hydrophobic adalah teknologi yang membuat barang menjadi sangat tahan air. Pada kondisi sehari-hari, super hydrophobic bisa dilihat pada permukaan daun talas. Air yang menetes di permukaan daun talas langsung meluncur turun tanpa ada sedikit pun material air yang menempel di permukaan.

Solikhin berupaya membuat lapisan yang sangat tipis untuk ditempelkan pada kayu. Dengan penggunaan teknologi nano, lapisan itu sangat tipis dan baru bisa dilihat jika menggunakan mikroskop.

Dengan misi ingin membuat tandan kosong kelapa sawit memiliki kegunaan lain, Solikhin membuat material nano yang berasal dari ekstrak cangkang kepiting (kitosan) dan selulosa dari tandan kosong kelapa sawit.

Dijelaskan, Proses melapisi kayu sehingga menjadi superkedap air itu ada dua tahap. Pertama adalah memasukkan partikel nano kitosan dan selulosa ke dalam pori-pori kayu. Pertama, dilakukan mendempul untuk menutup pori-pori sebelum dipelitur atau dicat. Serbuk nano yang ditanam di pori-pori kayu tersebut tidak bisa dilihat dengan mata karena sangat kecil.

Tahap berikutnya adalah melapisi kayu dengan material super hydrophobic yang berwujud lembaran. Ukuran ketebalannya adalah 100 nano atau 10¬-7 meter (seperjuta meter). Setelah berhasil dilapisi dengan material tadi, kayu yang dihasilkan benar-benar tahan air. Baik itu air pada umumnya, cat, maupun sejenisnya, seperti yang dilansir Jawapos.

Dengan teknologi super hydrophobic pada kayu, peningkatkan nilai jualnya bisa meningkat. Daya tahan kayu seperti sengon dan jabon bisa menjadi kuat layaknya kayu jati karena kayu-kayu tersebut tidak mudah lapuk karena air.

“Masa panen kayu sengon jauh lebih cepat daripada jati sehingga untuk mendapatkan kayu yang awet, tidak perlu bergantung pada jati atau kayu ulin,’’ tuturnya.

Namun, Solikhin berkata, risetnya masih butuh penelitian-penelitian lanjutan. Dengan uang hadiah 5.000 euro dari memenangkan lomba Schweighofer Prize 2017, nantinya akan dilakukan riset lanjutan. ”Mudah-mudahan ke depan riset saya bisa diproduksi masal untuk kelestarian hutan di Indonesia,” tutupnya. (T4)