Berita Lintas
sawitbaik

Pemerintah Akan Lawan Kampanye Hitam Sawit



labelling, salah satu upaya menyudutkan produk kelapa sawit
Pemerintah Akan Lawan Kampanye Hitam Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, serta menteri Kabinet Kerja lain akan bertolak ke Brussels, Belgia pada Juli mendatang. Kabarnya, pemerintah akan memperjuangkan produk kelapa sawit untuk melawan resolusi sawit yang dikeluarkan Parlemen Uni Eropa.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, di Jakarta, Kamis lalu mengatakan, "Rapat ini persiapan kunjungan Pak Menko ke Uni Eropa, Brussels. Kita bahas materi-materi yang perlu dibawa, salah satunya soal resolusi sawit Parlemen Uni Eropa,"seperti yang dilansir Liputan6.

.Airlangga menuturkan, selain Uni Eropa, Norwegia juga sekarang ikut membuat resolusi sawit yang melarang penggunaan minyak sawit dalam biodiesel. Diketahui, para eksekutif maupun duta besar negara tersebut mengatakan keputusan Parlemen tidak mengikat, namun Indonesia perlu menjawab isu-isu yang dilempar Uni Eropa.

Tambahnya, pemerintah Indonesia nantinya akan berbicara dan melobi pemerintah Uni Eropa. Namun, pemerintah juga akan membahas masalah ini kepada Malaysia sebagai bagian dari produsen penghasil kelapa sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC).

Diketahui, Parlemen Eropa dalam resolusinya merekomendasikan tanaman sawit diganti rapeseed dan sun flower. Hal ini karena sawit dianggap tak ramah lingkungan. Namun, Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Bedjo Santoso membatah hal itu. “Semua stigma negatif itu berasal dari informasi yang tidak berdasar. Karena dari berbagai penelitian, semuanya itu tidak terbukti,” tuturnya.

Menurutnya, tanaman sawit justru lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan jenis tanaman hutan lainnya. Dalam setahun, sawit menyerap 1.104 milimeter(mm) air, lebih sedikit jika dibandingkan tanaman sengon (1.355), jati (1.300), mahoni (1.500), dan pinus (1.975).

Dari sisi penyerapan karbondioksida (CO2), sawit justru lebih banyak menyerap CO2 jika dibandingkan dengan empat tanaman hutan tersebut.

Bahkan, tiap hamparan sawit seluas 1 hektare (ha) mampu menyerap CO2 sebanyak 36 ton. Jumlah tersebut lebih banyak bila dibandingkan dengan tanaman sengon yang hanya mampu menyerap CO2 sekitar 18 ton, jati (21 ton), mahoni (25 ton), dan pinus (20 ton).

Bedjo menambahkan, adanya informasi yang menuduh sawit sebagai perusakan merupakan pesanan dari negara lain dengan tujuan melindungi komoditas minyaknya, seperti tanaman rapeseed, sun flower (bunga matahari), maupun soyben (kedelai). (T4)