InfoSAWIT, Kuala Lumpur – Negeri Jiran memiliki memiliki keinginan untuk menguasai ekspor crude palm oil (DPO) atau minyak kelapa sawit ke China. Hanya saja keinginan itu diprediksi bakal terkena hambatan. Dikatakan Kepala Regional bidang Agribisnis Bank CIMB, Ivy Ng, permintaan kelapa sawit di China bergantung pada bagaimana daya saingnya, dan persediaan serta kualitas CPO dari Indonesia dianggap masih memiliki keunggulan kompetitif dibanding Malaysia.
Berdasarkan data Bloomberg, dalam perdagangan harga CPO sekitar US$ 80 per ton, lebih rendah dari harga minyak kedelai. “Dari sudut pandang historis, potongannya tidak menarik. Membuat mereka (China) membeli tidak lebih dari sekedar konsumsi rata-rata,” jelasnya, seperti dilansir Xinhua.
Rintangan lain bagi CPO Malaysia masuk pasar China, selain kalah kualitas dengan CPO Indonesia, juga ada minyak nabati lain seperti kedelai. China lebih membutuhkannya. Menurut sebuah laporan baru-baru ini yang ditulis UOB Kayhian Research, permintaan minyak kedelai dari China diperkirakan akan meningkat, seiring konsumsi daging.
Ini bisa menjadi ancaman jangka panjang terhadap industri kelapa sawit, karena persediaan kedelai cukup untuk menutupi kebutuhan dan dalam 5 tahun terakhir, produksi kedelai semakin baik.
Lembaga ini juga mencatat permintaan kedelai yang meningkat karena sekitar 80 persen kebutuhan di China berasal dari impor. Sebagai perbandingan, permintaan untuk minyak kelapa sawit dalam 10 tahun terakhir stagnan, hanya 5 juta sampai 6,6 juta ton. “Meskipun impor minyak nabati terus meningkat, harga kompetitif dari Indonesia bisa memberi keunggulan,” tutur ekonom dari OCBC Bank, Barnabas Gan. (T3)







