Berita Lintas
sawitbaik

Prof Yanto : Lahan Tidak Produktif Kenapa Tidak Dimanfaatkan?



Prof Yanto : Lahan Tidak Produktif Kenapa Tidak Dimanfaatkan?

InfoSAWIT, JAKARTA - Sempat memunculkan pendapat pro dan kontra akibat hasil penelitiannya mengenai kelapa sawit bukan pemicu deforestasi. Terlebih hasil penelitian itu muncul tatkala isu Uni Eropa yang menyebut sawit sebagai pemicu deforestasi beberapa waktu lalu menjadi perbincangan dikalangan pemangku kepentingan kelapa sawit.

Ternyata sosok Prof. Yanto Santosa, tidak seheboh hasil penelitiannya yang menyebut sawit bukan sepenuhnya pemicu terjadinya deforestasi. Bahkan, guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menyebut, mendukung kebijakan moratorium yang dilakukan pemerintah.

Hanya saja, tutur Prof. Yanto, tercatat masih banyak lahan terlantar yang belum dimanfaatkan secara maksimal, merujuk hitungan dia, ada sekitar 40 juta ha lahan tidak produktif, sehingga justru malah menimbulkan permasalahan baru, misalnya kejadian kebakaran lahan.

Padahal jika saja dilakukan penanaman tanaman komoditas pertanian atau perkebunan, bisa lebih produktif. “Intinya pemerintah harus hadir, membela semua jenis usaha yang produktif dan ekonomis,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Terjadinya kebakaran lahan itu akibat lahan terlantar yang dikelola dengan tidak baik sebab tidak ada yang memantau. Prof. Yanto menyarankan pemerintah mesti lebih perhatian terhadap para pelaku usaha, bukannya mendukung pelaku usaha, namun ini dilakukan lantaran pelaku usaha membuat lahan yang  sebelumnya tidak produktif menjadi lebih produktif, meningkatkan produktivitas komoditas unggulan, memberikan lapangan pekerjaan, serta banyak akses jalan terbuka. “Terlepas dari soal “nakal atau tidak nakalnya” pengusaha, pemerintah mesti bisa membinanya, bukannya pemerintah justru menekan pengusaha,” katanya.

Lantas terkait adanya dugaan kelapa sawit merambah hutan, merambah taman nasional, itu perlu data yang akurat dan pemerintah semestinya telah memiliki pilihan apakah sebaiknya dikembalikan ke taman nasional berarti di hutankan kembali, atau dibiarkan terus berlanjut. “Itu silahkan, itu kepentingan nasional loh, dan bukan perusahaan, pastinya kan banyak masyarakat lokal terlibat,” tutur Prof. Yanto. (T2)