InfoSAWIT, JAKARTA - Merujuk informasi dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Amerika Serikat (AS) menaikkan permintaan minyak sawitnya secara signifikan pada Mei ini. Negeri Paman Sam ini mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 43% dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 83,70 ribu ton di April menjadi 119,95 ribu ton.
Hal ini sangat mengejutkan di saat AS sedang dengan gencar menuduh Indonesia melakukan dumping biodiesel. Sebagian dari minyak sawit yang diimpor ke AS digunakan untuk biodiesel. Sejak diberlakukan pelarangan penggunan lemak trans (trans fat) pada produk makanan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS di pertengahan 2015, permintaan minyak sawit AS terus meningkat karena minyak sawit tidak mengandung lemak trans sehingga menjadi pilihan utama sebagai pengganti. Di samping itu, harga minyak sawit juga lebih murah dibandingkan dengan harga minyak nabati lainnya.
Kenaikan permintaan akan minyak sawit Indonesia juga dicatatkan oleh Bangladesh sebesar 29% atau dari 124,95 ribu ton di April naik menjadi 163,27 ribu ton. “Kenaikan permintaan karena konsumsi yang diperkirakan meningkat selama bulan Ramadhan. Hal yang sama diikuti oleh India yang membukukan kenaikan permintaan sebesar 12%,” kata Direktur Eksekutif GAPKI, FAdhil Hasan dalam keterangan resmi yang diterima InfoSAWIT. (T2)










