Berita Lintas
sawitbaik

Kambing Hitam: HUTAN.



Kambing Hitam: HUTAN.

InfoSAWIT, JAKARTA - Ketika tingkat pencemaran yang dihasilkan oleh negara-negara industri maju (baca: Eropa, Amerika, Australia) telah mencapai titik kritis, yang menyalakan lampu merah tanda bahaya terjadinya Pemanasan Global yang berlanjut pada Perubahan Iklim, mereka mulai mencari kambing hitam. Para Phd. dan Doktor di NGO yang mereka biayai dengan sigap membelokkan perhatian dunia pada keberadaan hutan untuk menyedot kotoran karbon yang mereka buang. Dan hutan itu berada di daerah tropis, utamanya di Indonesia dan Brazil.

Menyedihkan, sementara negara negara Barat masih kental sifat penjajahnya, sebagian bangsa kita masih kental pula perasaan inferior bangsa terjajah. Tak satupun pemimpin kita yang berani berkata: “Hutan kami, kami yang atur. Kami berdaulat atas hutan kami!”

Seyogyanyalah hutan Indonesia dimanfaatkan untuk kelestarian alam negeri sendiri serta untuk peningkatan ekonomi nasional demi kesejahteraan rakyat Indonesia. Hutan Indonesia bukan untuk membersihkan kotoran karbon dari negara negara kaya!

Di bawah tekanan NGO dan desakan pemerintah Norwegia dengan iming-iming hadiah US$ 1 milyar, dua Presiden RI manut dan menandatangani Moratorium Pemanfaatan Hutan Indonesia dan kini akan 3 kali perpanjangan masa berlakunya.

Indonesia, yang hutannya terluas ke-9 di dunia, disuruh memoratorium pemanfaatan hutannya oleh negara yang nyaris tak punya hutan! iming-iming uang US$ 1 milyar tersebut tidak pernah diterima meski moratorium sudah diperpanjang mau tiga kali.

Kalaulah pemimpin kita pintar mereka akan bilang Norwegialah yang harus memberlakukan Moratorium Pemanfaatan Hutan di negerinya. Betapa tidak, menurut CIA Fact Book 2011, hanya 29% permukaan tanah Norwegia yang ditutupi hutan, sementara hutan Indonesia menutupi 46% luas daratannya. Di sisi lain, hutan Indonesia jauh lebih luas daripada hutan Norwegia yang hanya 94.000 Km2  dibanding hutan Indonesia yang 890.000 Km2.

Dunia sudah terbalik. Siapa harus mencontoh siapa? Siapa inferior, siapa superior? Cobalah bandingkan kelestarian hutan Indonesia dengan Eropa dan negara Barat lainnya. Terhadap luas daratan, tutupan hutan di Perancis 37% – itupun sudah termasuk wilayah jajahannya di seberang lautan, Itali 35%, Luxembourg 34%, Selandia Baru dan Jerman 32%, Swiss, Kanada dan Amerika Serikat 31%, Belgia 22%, Inggris dan Denmark 12%, Australia 19%, Irlandia 11%, dan Belanda hanya 9%, jauh dibawah Indonesia yang tutupan hutannya 46%.

Dengan fakta-fakta tersebut, NGO Lingkungan dari negara negara miskin hutan tersebut. masih berani mengatakan bahwa mereka lebih mengerti dan sadar lingkungan daripada kita. Mereka ingin mengajari, mengatur dan mendikte bagaimana mengelola hutan kita. Padahal merekalah yang harus belajar dari kita bagaimana melestarikan hutan. Mereka, para NGO Lingkungan dari negara-negara miskin hutan tersebut. bukan pejuang lingkungan. Mereka adalah ujung tombak kepentingan bisnis negara-negara green imperialists. (Maruli Pardamean/Praktisi Sawit).