Berita Lintas
sawitbaik

KEMERDEKAAN ENERGI TERBARUKAN



Salah satunya, penggunaan bahan baku minyak sawit sebagai biodiesel yang sejak lama sudah di cetuskan. Bahkan, berbagai penelitian yang dilakukan secara ilmiah dan transparan juga sudah dilanjutkan dengan berbagai uji coba secara komersil. Kendati sudah banyak dilakukan berbagai uji coba, namun biodiesel berbahan baku minyak sawit seringkali dipertanyakan.

Sejatinya, dunia sudah mengakui keberadaan biodiesel berbahan baku minyak sawit. Terlebih, negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, sudah sering menggunakan biodiesel minyak sawit. Namun, keberadaan biodiesel masih sering mendapat hambatan secara teknis dan non teknis yang masih membutuhkan banyak dukungan.

Sempat mendapatkan insentif keringanan pajak di Amerika Serikat, biodiesel minyak sawit kemudian, juga mendapatkan serangan dari berbagai kebijakan pemerintah paman sam tersebut. Alhasil, minyak sawit mendapatkan pengecualian dari insentif yang diberikan bagi energi hijau tersebut.

Sama halnya, dengan negara-negara Uni Eropa, yang awalnya membuka kran impor biodiesel lebar-lebar. Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintah negara anggota Uni Eropa mulai memperketat aturan teknis dan non teknis bagi minyak biodiesel. Bahkan, baru-baru ini, secara bertahap, Uni Eropa melakukan revisi akan penggunaan biodiesel yang diturunkan secara drastis.

Berbagai “penolakan halus” menggunakan biodiesel khususnya berbahan baku minyak sawit, merupakan gambaran besar akan bisnis minyak bahan bakar yang sarat akan kepentingan. Pasalnya, sebagai minyak bahan bakar, maka biodiesel menjadi bagian utama dari keamanan energi suatu negara.

Biodiesel Sawit Jadi Keamanan Energi Nasional

Menjadi bagian dari posisi kunci akan keamanan energi, telah menjadikan minyak sawit menjadi minyak nabati yang paling diperhitungkan di kancah perdagangan dunia internasional. Lantaran, pasokan minyak sawit di dunia, sebagian besar berasal dari Indonesia. Bila penggunaan biodiesel secara masal terjadi, maka Indonesia akan . . .