BANDUNG – Industri kelapa sawit diimbau untuk segera menerapkan bioteknologi untuk meningkatkan kualitas produksi dan mengurangi penggunaan bahan kimia sehingga dapat lebih diterima di pasar internasional.
“Tantangan ini akan dijawab melalui bioteknologi, yaitu penggunaan proses manipulasi biologi untuk memperbaiki kualitas kelapa sawit,” ujar peneliti Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI), Darmono Taniwiryono, seperti ditulis CNN Indonesia, Jumat (28/11/2014).
“Namun, untuk menerapkan bioteknologi, kita perlu memiliki komitmen yang kuat untuk membiayai riset di bidang ini. Pada umumnya, riset tersebut memakan biaya yang besar yakni hingga US$ 1,2 juta per tahun,” jelasnya.
Menurut Darmono, pelaku industri kelapa sawit perlu beralih ke penerapan bioteknologi karena beberapa alasan. Pertama, mengurangi penggunaan bahan kimia hingga 37%, dan kedua, meningkatkan hasil panen hingga 22%, serta ketiga, meningkatkan profit petani. (T4)










