InfoSAWIT, SERIAN – Hingga saat ini tercatat, Malaysia masih membutuhkan banyak tenaga kerja outsourcing dari negara lain untuk memenuhi kekurangan tenaga kerja di sektor konstruksi dan perkebunan kelapa sawit
Menteri Sumber Daya Manusia, Malaysia, Datuk Seri Richard Riot Jaem mengatakan, diperkirakan sekitar 80% angkatan kerja pada setiap proyek pengembangan dan infrastruktur "raksasa" di Malaysia terdiri dari pekerja asing. "Sebelumnya, ada pekerjaaan yang menunjukkan bahwa kita sama sekali tidak membutuhkan pekerja asing. Hanya saja kini bila kita tidak merekrut pekerja asing (untuk mengisi kekosongan), banyak proyek pembangunan akan macet,” katanya dikutip InfoSAWIT dari News Strait Times.
Bahkan akibat tidak adanya tenaga kerja perkebunan di sektor kelapa sawit, di Pmerintah Serawak mencatat, kondisi ini telah menimbulkan kerugian hingga RM 1 miliar setiap tahun sejak 2012 lalu, lantaran banyak tandan buah segar (TBS) sawit yang tidak terpanen. Masalah ini terus berlanjut karena industri ini mengandalkan tenaga kerja dari Indonesia untuk memanen TBS.
"Sekarang, kita menghadapi kekurangan karena Indonesia telah membuka banyak perkebunan kelapa sawit yang menawarkan gaji lebih baik. "Kami sekarang mencari ke Kamboja untuk memenuhi kekurangan tenaga kerja industri kelapa sawit,” tandas Riot. (T2)










