InfoSAWIT, JAKARTA - Penerapan praktik kelapa sawit berkelanjutan hingga saat ini tidak hanya didominasi perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta besar atau petani kelapa sawit plasma, sebab faktanya petani kelapa sawit swadaya pun melakukan hal serupa.
Untuk di Indonesia, merujuk data dari RSPO sampai Juli 2018, luasan lahan perkebunan kelapa sawit yang dikelola petani swadaya dan plasma yang telah mendapatkan sertifikat RSPO mencapai seluas 136,089 ha dengan melibatkan sebanyak 56,357 pekebun sawit kecil.
Pada awal Agustus 2018 lalu, FORTASBI meluncurkan Sekolah Petani untuk Minyak Sawit berkelanjutan, sekolah ini digagas oleh FORTASBI untuk mendukung petani-petani swadaya di Indonesia guna mengimpelemntasikan minyak sawit berkelanjutan.
Dikatakan Direktur Yayasan Setara Jambi, Rukaiyah Rafiq, sekolah ini akan berkerja sama dengan semua pihak, baik pemerintah dalam menerapkan dan mempercepat ISPO, perusahaan dan pabrik kelapa sawit yang saat ini mendukung sertifikasi seluruh suplly base termasuk petani swadaya, “Serta pihak-pihak lainnya termasuk pasar, untuk mempercepat dukungan terhadap minyak sawit berkelanjutan,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini di Jakarta.
Sementara dikatakan ketua FORTASBI, Narno, hingga saat ini banyak petani sawit swadaya yang tidak mendapatkan akses informasi mengenai sertifikasi Minyak sawit berkelanjutan, baik untuk skema RSPO, ISPO dan bahkan ISCC.
Untuk itu, tutur Narno, sekolah ini hadir untuk memberikan peluang bagi petani-petani swadaya diIndonesia, agar standar minyak sawit berkelanjutan menjadi norma dan budaya petani-petani swadaya di Indonesia. “Kami ingin membagi pengetahuan yang ada pada kami, untuk petani swadaya di Indonesia,” kata Narno. (T2)
Terbit pada Majalah InfoSAWIT edisi Agustus 2018







