Berita Lintas
sawitbaik

Ketua Keluarga Alumni Instiper: Bersama Hadapi Tantangan Sawit Kedepan



Ketua Pengurus Pusat Keluarga Alumni Instiper Jogjakarta (KA-Instiper), Priyanto PS (kiri), saat memberikan piagam penghargaan ke DirjenBun,Kementan, Bambang
Ketua Keluarga Alumni Instiper: Bersama Hadapi Tantangan Sawit Kedepan

InfoSAWIT, JAKARTA – Dikatakan Ketua Pengurus Pusat Keluarga Alumni Instiper Jogjakarta (KA-Instiper), Priyanto PS, hingga saat ini alumni Instiper Jogjakarta telah mencapai 14 ribu orang dimana sekitar 60% dari jumlah tersebut banyak mengabdi di sektor perkebunan kelapa sawit.

Sebab itu diakui atau tidak Instiper Jogjakarta memiliki kontribusi tidak sedikit pada pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, dengan alasan itu juga pada Jumat (26/10/2018) dilakukan Seminar Nasional bertajuk “Kelapa Sawit Sebagai Penopang Kemandirian Pangan & Energi Nasional”, yang diadakan di Hotel Grand Mercure, Kemayoran, Jakarta.

Acara ini tutur Priyanto, merupakan rangkaian tidak terpisah dari kegiatan Musyawarah Nasional Keluarga Alumni Instiper Jogjakarta, untuk memilih ketua baru yang akan menahkodai KA-Instiper Jogjakarta. “Sangat relevan bila kami mengadakan acara ini bertema kelapa sawit, apalagi komoditas ini menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional dari sektor pertanian, dapat menjadi sarana pembuka isolasi daerah pedalaman, membuka peluang kerja dan usaha, menggerakan ekonomi perdesaan, serta multiple player effect lainnya,” kata Priyanto, saat membuka acara  tersebut, yang dihadiri InfoSAWIT.

Namun demikian, kata Priyanto, perkebunan kelapa sawit kedepan masih memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi, baik karena isu persaingan usaha komoditas sejenis dari negara lain maupun hambatan teknis dan lemahnya permodalan dari para petani kelapa sawit.

Termasuk ditengah situasi melambungnya minyak bumi dan harga dollar yang tinggi, maka kebijakan campuran minyak sawit sebanyak 20% ke minyak solar (B20) diharapkan bisa membantu menghemat devisa negara. “Kedepan dalam jangka panjang kita haus berkiblat kepada kelapa sawit,” kata Priyanto.

Lebih lanjut kata Priyanto, masih maraknya isu negatif terhadap kelapa sawit perlu dilakukan upaya membangun dan memberikan penjelasan sebaik mungkin kepada para generasi muda untuk bisa memahami industri kelapa sawit, supaya mereka yang masih kebingungan bisa kembali ke jalan yang benar. “Kita harus berjuang supaya komoditas kelapa sawit ini bisa berkembang dan bisa menjadi penopang ekonomi negara,” katanya.

Sebab itu dibutuhkan kesadaran semua pihak untuk bersama menyatukan pikiran dan langkah agar dapat memenangkan pertarungan ini, sehingga komoditas kelapa sawit dapat berkontribusi dalam meningkatkan kemakmuran bangsa. “Semoga pemikiran yang berkembang di dalam seminar nasional ini dapat menjadi masukan untuk menjawab tantangan yang dihadapi tersebut,” tandas Priyanto. (T2)