InfoSAWIT, JAKARTA – Hingga saat ini ada kekhawatiran yang berkembang —bisa dibilang sebagai kampanye negatif — bahwa minyak sawit dapat menyebabkan kanker atau penyakit yang mengancam jiwa lainnya, jika dikonsumsi terus-menerus.
“Saya bukanlah seorang dokter atau ilmuwan yang mengatakan bahwa minyak sawit sehat atau tidak sehat, saya serahkan kepada industri yang bekerja sama dengan akademis untuk membuktikannya secara ilmiah,” kata Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, dalam pidatonya pada Konferensi Minyak Sawit Internasional IPOC 2018 & 2019 Price Outlook di Nusa Dua Bali, Kamis (01/11/2018), yang dihadiri InfoSAWIT.
Sebab itu lanjut Enggar, dirinya merasa terdorong untuk menginformasikan pada konferensi ini bahwa sudah banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi asam lemak jenuh dari minyak kelapa sawit tidak menyebabkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular (penyakit jantung).
Bila mengasumsikan penggunaan lemak jenuh perlu diatur, tindakan yang diambil, tutur Enggartiasto, harus bersifat non-diskriminatif dengan menargetkan semua produk makanan yang mengandung lemak jenuh. “Terlepas dari asal usul lemak, baik dari minyak nabati atau lemak hewani,” katanya.
Sementara merujuk penelitian terbaru yang dipimpin oleh Profesor Joseph Poore dari Universitas Oxford, yang diterbitkan pada Mei 2018. Penelitian ini terdiri dari kumpulan data besar sekitar 40.000 peternakan di 119 negara dan mencakup 40 produk makanan yang mewakili 90% dari semua dikonsumsi oleh manusia.
Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa "tanpa konsumsi daging dan susu, penggunaan lahan pertanian global dapat dikurangi lebih dari 75% - sebuah area yang setara dengan gabungan AS, China, Uni Eropa dan Australia - dan masih memberi makan dunia."
Studi ini lebih lanjut mengklaim bahwa sementara daging dan produk susu telah menyediakan 18% kalori dan 37% protein, ia menggunakan sebagian besar - 83% - lahan pertanian dan menghasilkan 60% emisi rumah kaca pertanian.”
“Sebagai frasa Profesor Joseph Poore, pola makan vegan mungkin adalah cara terbesar untuk mengurangi dampak Anda terhadap planet Bumi, bukan hanya gas rumah kaca, tetapi juga pengasaman global, eutrofikasi, penggunaan lahan, dan penggunaan air,” tandas Mendag. (T2)







