Berita Lintas
sawitbaik

Kampanye Greenpeace, Mengancam Nasib Jutaan Petani dan Perkerja Sawit



Kampanye Greenpeace, Mengancam Nasib Jutaan Petani dan Perkerja Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Tindakan brutal LSM Greenpeace yang didukung kroni-kroninya, tentu saja akan menjadi bantalan baru bagi negara asing untuk menjajah kembali Indonesia. Apabila dahulu, ada VOC sebagai alat dagang, yang kemudian Belanda menjajah Indonesia, maka LSM Greenpeace akan menjelma menjadi alat dagang yang baru.

Melalui berbagai cara penindasan dan boikot terhadap minyak sawit Indonesia, LSM Greenpeace secara sporadis dan sadis, terus menerus melakukan kampanye negatif hingga kampanye hitam, terhadap minyak sawit Indonesia. Bahkan, kedaulatan NKRI, juga terancam dengan berbagai aksi brutalnya.

Dikatakan  Sekjen Pengurus Pusat Keluarga Alumni Instiper, Noor Falich,  perilaku tidak beradab, yang dilakukan LSM Greenpeace, bukanlah sekedar kampanye, melainkan melakukan penyerangan langsung secara brutal kepada sawit Indonesia. “Akibatnya, kehidupan puluhan juta petani dan pekerja serta pengusaha sawit, yang notabene kebanyakan rakyat Indonesia, terancam keberlangsungan hidupnya,” katanya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (22/11/2018).

Senada dikatakan Ketua Umum Pengurus Pusat Keluarga Alumni Instiper, Priyanto PS, bahwa hidup puluhan juta rakyat Indonesia kini terancam keberlangsungannya, “Apakah kita hanya bisa terdiam? TIDAK… TIDAK… TIDAK… Karena sawit, sudah menjadi sumber kehidupan bagi kami. Karena sawit, sudah menjadi bagian dari hidup bangsa Indonesia,” katanya.

Lebih lanjut kata Priyanto, ketika LSM Greenpeace sudah tidak peduli dengan penderitaan puluhan juta rakyat Indonesia, maka sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus berani berjuang bersama untuk merebut kemerdekaan sejatinya.

Disaat, LSM Greenpeace terus melakukan aksi brutal melalui kampanye hitam terhadap minyak sawit, yang terus dihembuskan kepada dunia, dengan berbagai dalil isu lingkungan. Maka, sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus berani melawan dan berjuang, untuk menyatakan, bahwa minyak sawit Indonesia, selalu peduli dan menjaga sosial dan lingkungannya.

Tatkala, banyak anak muda Indonesia, yang menjadi bagian dari LSM asing, yang menggerogoti negerinya dengan isu lingkungan dan HAM. Perilaku anak bangsa seperti inilah, yang dahulu melanggengkan penjajahan selama 3,5 abad di Indonesia. Maka, Indonesia harus mendidik generasi mudanya untuk peduli dan berkarya.

Sebab itu, Kata Priyanto, Keluarga Alumni Instiper mendorong Pemerintah Indonesia untuk waspada dan sadar, akan adanya penjajahan baru dari LSM Greenpeace, yang akan menjelma menjadi alat dagang baru atas dalil lingkungan, untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Karena tidak banyak permukaan daratan bumi ini, yang layak dibudidayakan kelapa sawit dengan hasil baik. Diantaranya, dari yang sedikit itu, berada di wilayah Indonesia.

Tentang Alumni Instiper Yogjakarta

Keluarga Alumni Instiper (Kainstiper), Yogjakarta, merupakan wadah perhimpunan lulusan Institut Pertanian (Instiper) Yogjakarta. Sejak didirikan, Kainstiper merupakan mitra pemerintah dan Instiper dalam mendorong kemajuan pendidikan berbasis pertanian dan perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit. Beranggotakan 14.000 orang, Kainstiper memiliki anggota perhimpunan sebesar 60% atau sekitar 8.400 orang, yang tersebar di seluruh perkebunan kelapa sawit di dunia termasuk Indonesia. Sebab itu, Kainstiper selalu mendorong kemajuan pertanian dan perkebunan, khususnya perkebunan kelapa sawit Indonesia.

Pengurus Pusat Kainstiper dikomandoi oleh Priyanto PS, sebagai ketua umum terpilih kali keduanya pada pertengahan 2018 lalu. Sekretaris Jenderal (Sekjen) dijabat Noor Falich. (T2)