InfoSAWIT, JAK LUAY - Entah apa jadinya bila pengembangan sawit tak masuk ke Desa Jak Luay. Bisa jadi jalan utama desa belum tentu bisa beraspal mulus, atau gelap tatkala malam tiba, bahkan pendapatan masyarakat pun tidak tetap.
Sebelumnya kerap gelap dikala malam tanpa ada penerangan, jalan rusak dan sulitnya alat transportasi telah menjadi keseharian bagi warga desa Jak Luay. Bahkan, untuk melakukan perjalanan ke desa tetangga butuh waktu tidak sebentar.
Bahkan, cerita Siprianus Ot Deang, pemuda 36 tahun, banyak diantara warga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mencari kayu rotan dan ikan. Tidak ada pekerjaan tetap, tentu penghasilanpun tidak selalu didapat lebih banyak menunggu dari keberuntungan dari alam.
Kala itu tahun 1996, guna memperoleh pendapatan sebanyak Rp 150 ribu per bulan belum tentu dapat, bila air sunga surut maka penghasilan bisa menurun, menunggu hingga air sungai kembali mengalir.
Sehari-hari tutur Ot Deang, keadaan demikian dijalannya hingga masuk sawit tahun 2000 an di desanya. Saat itu kata Ot Deang, dia tidak langsung membuka kebun sawit atau ikut bergabung sebagai petani plasma, sebagai penduduk asli, dia lebih banyak ikut dalam proses pengembangan sawit di daerahnya, dengan menjadi anggota tim survei pengembangan perkebunan kelapa sawit.
Keikutsertaan Ot Deang ternyata tidak hanya sebagai tim survei, keikut sertaannya terlibat dalam proses pengembangan perkebunan kelapa sawit bersama perusahaan hingga pada tahap pembukaan lahan (land clearing/LC), pengecambahan bibit sawit, hingga melakukan perawatan sampai masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM). “Saat itu honor saya sekitar Rp 750 ribu,” katanya kepada InfoSAWIT.
Dengan berbekal kemampuan dalam mengembangkan perkebunan kelapa sawit yang didapatnya saat masih membantu perusahaan, mendorong Ot Deang untuk memberanikan diri guna membuka kebun kelapa sawit secara mandiri.
Kata dia, sawit merupakan cara bagi mereka keluar dari jurang kemiskinan dan sebagai jalan untuk melakukan pengembangan perekonomian desa. “Dengan adanya sawit telah mengubah masyarakat, dari sebelumnya tidak bekerja menjadi bekerja, serta memperoleh pendapatan yang lebih tetap, kehidupan masyaralat di Jak Luay lebih sejahtera dengan adanya sawit,” katanya.
Saat ini rata-rata masyarakat di Desa Jak Luay telah memiliki lahan plasma perkebunan kelapa sawit, bagi mereka yang belum memiliki plasma maka telah membuka perkebunan kelapa sawit secara mandiri (swadaya).
Lantaran semakin banyaknya masyarakat membuka kebun sawit maka pada tahun 2004 bersama denga petani lain mendirikan Koperasi Karya Baru berlokasi di Desa Jak Luay, Kabupaten Telen, Kalimantan Timur, dengan anggota sebanyak 199 Kepala Keluarga (KK). (T2)
Telah Terbit pada InfoSAWIT edisi Cetak Agustus 2018







