InfoSAWIT, JAKARTA - Dengan metoda production force management, peningkatan produktivitas tanaman kelapa sawit utamanya produksi tandan buah segar (tbs) sawit dapat meningkat antara 30-100 % dalam tempo tiga tahun setelah perlakuan.
Tanaman kelapa sawit yang ditanam saat ini adalah tanaman kelapa sawit yang telah mengalami persilangan, dinamakan kelapa sawit hibrida. Ciri umum tanaman hibrida adalah produktivitasnya lebih tinggi bahkan bisa 2-3 x lipat tanaman ibunya dan umur tanaman belum menghasilkan jadi lebih pendek. Dengan metoda Production Force Management, peningkatan produktivitas tanaman kelapa sawit berupa tandan buah segar dapat meningkat antara 30-100 % dalam tempo 3 tahun setelah perlakuan. Menariknya biaya perawatan untuk melaksanakan metoda ini praktis tidak ada perbedaan dengan cara konvensional.
Fakta di lapangan produktivitas nasional kelapa sawit masih tergolong rendah karena beberapa hal yang menjadi penyebabnya antara lain :
1. Diperkirakan sebagian besar perkebunan rakyat masih menggunakan bibit asalan yang berasal dari tumbuhan liar yang tumbuh disekitar tanaman kelapa sawit, sehingga produktivitasnya menjadi rendah. Bibit asalan ini harganya yang jauh lebih murah, akan tetapi sangat merugikan para petani itu sendiri, pengusaha dan negara karena disamping produktivitasnya rendah, rendemen minyaknya juga rendah (sekitar 17-18%), belum lagi akibat batok inti sawitnya tebal, jadi sulit dipecahkan. Potensi minyak sawit dan minyak inti sekitar 1.5 – 2 ton/ha/tahun.
2. Masih banyak perkebunan kelapa sawit yang tidak diurus dengan baik atau setengah terlantar, karena berbagai hal, akan tetapi umumnya mismanagement
3. Banyak ditemukan kebun kelapa sawit produktif dengan sengaja tidak memberi nutrisi secukupnya, karena pengelolanya kurang paham karakteristik kelapa sawit
4. Banyak perkebunan kelapa sawit dan perkebunan rakyat yang membiarkan jalan produksi rusak berat, sehingga produksi sulit diangkut, akibat anggapan perawatan jalan itu hanyalah buang uang.
5. Banyak perkebunan kelapa sawit yang dikelola sekedarnya saja, tidak mengandalkan produktivitas dan harga pokok sebagai pedoman.
6. Ada juga perkebunan kelapa sawit yang sengaja diperjual belikan, sehingga tidak dirawat dengan baik.
7. Banyak petani kelapa sawit yang terlalu berharap bantuan dari pemerintah atau perkebunan intinya di dalam merawat kebunnya, sedang perusahaan inti masih mengganggap kebun plasma sebagai beban saja.
Jika saja metoda ini dilakukan di seluruh Indonesia, produktivitas akan meningkat 30 % saja, maka akan terjadi pelonjakan produksi nasional yang besar sekali dari 38 juta ton menjadi 49 juta ton tanpa penambahan areal baru. Tanaman kelapa sawit saat ini mempunyai potensi produktivitas sampai 45 ton/ha/tahun, dengan tingkat rendemen sampai 28 %, walau rerata realisasinya masih di antara 15-20 ton/ha/tahun. Potensi minyak sawit dan intinya sekitar 12 ton, akan tetapi realisasinya hanya 3.5 – 4 ton saja, sehingga gap nya besar sekali.
Gap atau perbedaan antara realisasi dan potensi yang sangat jauh, perlu diatasi.
Metoda peningkatan produktivitas kelapa sawit telah tersedia yang disebut Production Force Management yang memungkinkan produktivitas dapat meningkat dengan cepat antara 30-100 % dalam tempo 3 tahun. (Penulis: Emha Training Center & Advisory Services/Dosen Tamu Fakultas Pertanian Unpad, Memet Hakim)
Lebih lengkap baca InfoSAWIT edisi Oktober 2018







