Berita Lintas
sawitbaik

Prabowo Pingin Tambah Plasma Sawit dan Jokowi Ingin Menuju B100



Prabowo Pingin Tambah Plasma Sawit dan Jokowi Ingin Menuju B100

InfoSAWIT, JAKARTA – Dalam acara Debat Capres ke II, kedua pasangan calon (Paslon) nomor urut 1 dan 2 mengungkapkan pandangannya dalam sesi Kemandirian Energi dan Pangan. Bagi Paslon No 01, Joko Widodo-Ma’ruf, upaya pengembangan sawit menjadi penting untuk kemandirian energi sebab itu pemerintah sudah menerapkan kebijakan mandatori campuran biodiesel sawit ke minyak solar sebanyak 20% (B20), tapi kata Joko Widodo, pihaknya ingin bisa menerapkan B100.

Sementara Paslon no 2, Prabowo-Sandi, mengakui industri sawit penting maka itu lebih memilih untuk menambah lahan plasm sawit. Kendati kata Prabowo, upaya penerapan B20 juga merupakan langkah yang baik.

Sementara itu dikatakan Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Mansuetus Darto, bila lahan plasma di perluas tidak akan memberikan solusi bagi rakyat. Karena secara benefit dengan sistem ekonomi dan politiknya tidak menguntungkan.

Sejatinya yang perlu dilakukan untuk Plasma yang sudah ada saat ini dan sawit swadaya sudah cukup tanpa harus ada perluasan, kata Darto, sebaiknya perlu dilakukan adalah, pertama, tingkatkan produktivitas petani sawit seperti program saat ini untuk replanting. Manfaatkan dana BPDP sebenar-benarnya untuk petani dan peningkatan Sumberdaya Manusia (SDM) petani.

Kedua, akses petani untuk masuk ke revolusi industri 4.0 agar mereka terhubung antara pembeli dan pabrik. “Pabrik yang beli dan petani siapkan tandan buah segar (TBS) yang bagus,” kata Darto dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Minggu (17/2/2019)

Lantas, ketiga, yang perlu dilakukan adalah penerapan mandatori B20 menuju B100. Harus ada rencana yang matang dalam B20, termasuk keterlibatan petani sebelum melangkah ke B100.

“Bagaimana keterlibatan petani untuk suplai program tersebut, sehingga keberpihakan ke rakyat jelas. Ini tugas penting bagi Jokowi adalah bagaimana mencegah penguasaan industri sawit oleh perusahaan besar sebagai pensuplai utama saja dan bukan petani. Sekrang petani harus jelas keterlibatannya,” tandas Darto. (T2)