Berita Lintas
sawitbaik

Sawit dan Fakta Deforestasi



Sawit dan Fakta Deforestasi

InfoSAWIT, JAKARTA – Akhir tahun 2018 lalu ada kontroversi atas film terbaru yang dibuat oleh Greenpeace, dimana menyoroti penderitaan orangutan yang terus berlanjut di Indonesia dan Malaysia, bila lahan dibuka untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit baru.

Film tersebut telah memperoleh jumlah waktu tayang yang sangat banyak, ketika Greenpeace menawarkan penggunaan film tersebut ke Iceland (toko ritel besar di Inggris) untuk iklan Natal mereka. Faktanya Greenpeace memiliki hubungan yang kuat dengan Iceland, satu-satunya peritel Inggris yang telah berkomitmen untuk menghentikan penggunaan minyak sawit di semua produknya sendiri pada akhir tahun 2018. Alasannya yang diberikan CEO Iceland, Richard Walker, tidak tahu bagaimana memberi tahu perbedaan antara minyak sawit berkelanjutan bersertifikat dan minyak sawit tidak bersertifikat.

Padahal membedakan minyak sawit bersertifikat tidak sulit, hanya saja guna memperoleh minyak sawit bersertifikat perlu membayar sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan harga minyak sawit tidak bersertifikat. Sangat baik bila kemudian Iceland bisa meyakinkan bahwa setiap 500 ton minyak sawit yang dibutuhkan setiap bulan bisa disertifikasi, dimana saat ini minyak sawit bersertifikat berkelanjutan masih membutuhkan pembeli.

Saat dilakukan pemeriksaan oleh otoritas pengatur penyiaran, film yang digunakan Iceland tersebut diduga sangat berbau politis dan diputuskan untuk dihentikan. Dugaan itu wajar apalagi pembuat film tersebut Greenpeace yang juga memiliki alasan khusus yang politis, dengan tanpa memenuhi etika persyaratan iklan yakni “adil, layak, jujur ??dan benar”. Cara demikian telah  menjadi kampanye media sosial besar-besaran, yang didukung oleh para selebiritis seperti James Corden (aktor, penulis, produser, komedian, pembawa acara televisi) dan Bill Bailey (komedian, pemusik, penyanyi, aktor, presenter TV dan radio), serta lusinan “selebritis” panggilan, yang sama-sama keliru tentang isu orangutan, termasuk upaya jahat untuk membatasi kebebasan berbicara.   

Sejujurnya, menjadi bahan tertawaan saat secara eksplisit film ini dianggap tidak bersifat propaganda dan penuh emosi - seperti yang dikatakan John Sauven, CEO Greenpeace Inggris. Film ini sendiri berfokus pada seorang gadis muda yang menemukan bayi orangutan di kamar tidurnya setelah diusir dari rumah hutannya. Mereka berdua memiliki mata coklat gelap yang besar. Ini dibuat dengan sangat baik, dan efektif - tetapi sangat manipulatif, mengapa?

Pertama, ini menyiratkan bahwa industri kelapa sawit adalah penyebab terbesar deforestasi di mana pun di dunia. Kedua, ini menyiratkan bahwa puluhan ribu orangutan masih terbunuh di Indonesia dan Malaysia setiap tahun karena perkembangan kelapa sawit. Padahal tidak demikian.

Ketiga, ini menyiratkan bahwa semua minyak kelapa sawit, digunakan untuk apa pun dan siapa pun yang menghasilkannya, bertanggung jawab atas kematian ribuan orangutan. Bukan begitu semestinya.

Lantas keempat, ini menyiratkan bahwa konsumen yang bertanggung jawab pasti akan mengambil bagian tanggung jawab atas kematian orangutan sebagai konsekuensi dari pembelian produk yang mengandung minyak sawit. Mereka tidak paham.

Empat alasan tersebut bisa berimplikasi sangat luas. Greenpeace banyak melakukan pekerjaan baik terkait membangun isu minyak sawit, dengan berbagai cara, tetapi kisah tentang minyak sawit berkelanjutan adalah sesuatu yang rumit, dan sangat tidak terbantu oleh salah saji yang disengaja seperti ini.

Anehnya, pada November 2018 lalu, Greenpeace UK merilis sebuah video yang secara eksplisit mengakui bahwa memboikot minyak sawit adalah hal yang salah untuk dilakukan. Bahwa beralih dari minyak sawit ke minyak lain dapat menjadi hal yang salah untuk dilakukan, karena minyak kelapa sawit jauh lebih produktif per hektar, dan bahwa “menanam kelapa sawit tanpa deforestasi adalah sangat mungkin, dan ada budidaya yang dilakukan dengan cara tersebut”. (Jonathon Porrit - Environmentalis & Penulis, Pendiri Forum for the Future dan pernah menjabat Direktur Friend of The Earth)

 

Lebih lengkap baca InfoSAWIT edisi Desember 2018