InfoSAWIT, JAKARTA - Seperti diketahui Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia bersama dengan Negeri Jiran, Malaysia, telah menguasai pangsa pasar minyak kelapa sawit dunia sebanyak 85%.
Merujuk data dari Kementerian Pertanian, devisa ekspor produk kelapa sawit pada 2017 lalu mencapai US$ 22,9 miliar atau setara dengan Rp 307,4 triliun dengan volume ekspor sebanyak 30,98 juta ton dari total produksi yang mencapai 37,8 juta ton, dan berasal dari lahan seluas 14,3 juta ha.
Luasnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia selaras dengan banyaknya masyarakat yang bergantung terhadap komoditas ini atau mencapai 17 juta orang (6,49%) dari jumlah penduduk Indonesia
Bisa dibayangkan jika hasil komoditas ini mendapat hambatan dagang dan larangan dari berbagai negara di dunia. Kemiskinan akan mengintai dan berpotensi menggerus perekonomian Indonesia karena ekspor komoditas ini terhambat.
Serangan terhadap komoditas ini terus terjadi. Selain kampanye negatif, beragam non – trade barier pun diterapkan. Seperti beberapa waktu lalu para anggota parlemen Uni Eropa sepakat untuk mencoret minyak sawit dari bahan baku energi terbarukan dengan alasan merusak hutan.
Padahal dari 16 juta hektar luas lahan kelapa sawit di dunia, deforestasi yang terjadi hanya sekitar 8%. Sementara komoditas kedelai menyumbang 19% deforestasi di dunia. Tanaman ini banyak dibudidayakan di negara yang memiliki empat musim.
Pertanyaannya adalah mengapa hanya minyak sawit? Mengapa tidak dengan minyak nabati lain karena juga berkontribusi pada deforestasi di dunia, seperti kedelai?
Bisa jadi, hal ini tidak diterapkan terhadap minyak kedelai karena produsen terbesar kedelai adalah negara yang berpengaruh di dunia, misalnya, Amerika Serikat dan Brasil. Berbeda dengan Indonesia karena tidak mudah melawan kampanye ini. Jelas, perlakuan ini merupakan diskriminasi Eropa terhadap Indonesia karena ada unsur politik di dalamnya. (Gessan Kurnia Dewi - Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, 2015. Universitas Padjadjaran)







