InfoSAWIT, BANDUNG - Selain black campaign dan diskriminasi UE, tantangan dalam industri kelapa sawit Indonesia adalah masalah produktivitas yang masih rendah.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, berharap semakin banyak riset yang dilakukan untuk mengatasi masalah produktivitas perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Joko memaparkan, kurun 2008 hingga 2017 rata-rata pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit bertambah 6% setiap tahun, tidak disertai dengan kenaikan produktivitas.
Dalam kurun waktu tersebut rata-rata produktivitas kelapa sawit hanya naik 3% setiap tahunnya. Dengan rata-rata yield 11 ton TBS (tandan buah segar) setiap tahunnya.
“Angka yang jauh lebih rendah dari potensi produktifitas kelapa sawit yang seharusnya bisa mencapai lebih 25 ton per hektar per tahun,” katanya saat berbicara pada Seminar Internasional Himpunan Ilmu Tanah Indonesia di Bandung, Selasa (6/8/2019) dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT.
Lebih lanjut kata Joko, sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia, Isu keberlanjutan tentu saja menjadi tantangan yang harus dihadapi. Joko menegaskan sustainable palm oil, harus mengedepankan tiga pendekatan dasar yakni profit, people dan planet. Ketiga elemen tersebut harus berjalan karena saling memberikan dampak satu sama lain. (T2)







