InfoSAWIT, JAKARTA - Perkebunan kelapa sawit merupakan komoditas utama yang patut diperlihara bersama karena menyerap 24 juta tenaga kerja. Hal ini menjadi dorongan moril pemerintah agar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) mendapat pengakuan dunia internasional.
Demikian dikatakan Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Antaredjo, dalam sambutan pada penyerahan sertifikat ISPO di Jakarta, Selasa (27/8/2019). Dalam kesempatan itu Antaredjo menyerahkan 64 sertifikat ISPO terdiri dari 63 perusahaan dan satu sertifikat ISPO buat koperasi dari Riau.
Antaredjo mengatakan, sawit merupakan komoditas ekspor utama yang patut diperlihara bersama. Apalagi perkebunan kelapa sawit menyerap 6,7 juta lebih tenaga kerja di tengah sulitnya mendapat peluang kerja saat ini.
Lebih lanjut Antaredjo menyebutkan, setidaknya terdapat 6,7 juta KK yang hidup dari perkebunan sawit. “Artinya dari 6,7 kepala keluarga dikalikan empat jiwa sudah ada 24 juta orang yang hidup dari kelapa sawit. Ini menjadi tanggungjawab kita bersama untuk menjaganya,” ujarnya dalam sambutan penyerahan sertifikat ISPO di Jakarta yang dihadiri InfoSAWIT, Selasa (27/8/2019).
Hal tersebut, lanjut Antaredjo, menjadi dorongan moril agar ISPO mendapat pengakuan internasional. Karena terkait sustainable, sebenarnya Indonesia sudah lebih dulu mengembangkan konsep itu ketimbang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menyangkut penerapan sustainable development goalds (SDGs).
“Jadi kalau cerita soal lingkungan, kita bukan hanya menerapkan di perkebunan tapi tanaman pangan sudah lebih dulu. Dulu petani tidak memakai pestida, itu sustainable. Cuma memang tidak dipublikasi,” ungkap Antaredjo.
Untuk itu, Antaredjo meminta agar semua pemangku kepentingan menyosialiasikan ISPO kepada masyarakat, terutama di kalangan universitas sampai sekolah. Hal ini menjadi tantangan kita sehingga penerapan sustainable kelapa sawit Indonesia diketahui semua lapisan masyarakat.
Antaredjo mengatakan, dari sisi ekonomi, ISPO memang masih banyak didominasi perkebunan besar. Sedangkan bagi pekebun rakyat pemerintah terus mendorong dan melakukan pendampingan agar petani menyadari tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Antaredjo menekankan, penyerahan sertifikat ISPO bukan sekedar seremonial. “Tapi ini bukti komitmen kita sudah mematuhi segala peraturan dan kepentingan kita semua. Jadikan ini sebagai kebiasaan,” tukasnya. (T2)







