InfoSAWIT, JAKARTA – Belum lama ini kembali petani kelapa sawit Indonesia memperoleh sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), kini giliran anggota Koperasi Sekato Jaya Lestari, mitra perusahaan perkebunan kelapa sawit yang dikelola Wilmar, telah menerima sertifikasi ISPO Sawit.
Tercatat koperasi ini memiliki areal lahan seluas 450 hektare (ha) yang berstatus area penggunaan lain (APL), dengan anggota petani sebanyak 228 KK, dimana masing-masing anggota mengelola kebun sawit seluas 1,93 ha. Lahan yang dikelola petani tersebut merupakan wujud Program Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Pemerintah Kabupaten Siak, bertujuan sebagai program pengentasan kemiskinan.
Dikatakan Ketua Koperasi Sekato Jaya Lestari, Joarsa, sejak diperkenalkan dengan ISPO pada Juli 2017 oleh perusahaan sawit Wilmar, rutinitas berkebun petani mulai ditata kembali dengan menganut prinsip pengembangan perkebunan kelapa sawit yang berkalanjutan. Diantara program yang diterapkan berupa program pendampingan petani secara terpadu, pemberdayaan organisasi petani dengan pelibatan para pemangku kepentingan terkait, pengenalan dan penerapan program ketelusuran sawit dari kebun sampai pabrik, dan lain-lain.
Berpedoman dengan prinsip dan kriteria ISPO, anggota koperasi didorong agar dapat mengetahui dan berkomitmen dalam menerapkan standar budidaya sawit berkelanjutkan, dalam bentuk modul program pelatihan. Misalnya, tidak berkebun di lahan yang tidak sesuai dengan aturan pemerintah, tidak melakukan deforestasi dan merusak lingkungan, serta pemilihan bibit dan cara-cara pemupukan yang tepat dan efisien.
“Selama ini petani hanya mengerti produksi yang baik, panen, dan kemudian menjualnya. Dengan ISPO, kami mengetahui mengenai legalitas, sehingga berkebun jangan di lahan bermasalah,” kata Joarsa dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT belum lama ini.
Lebih lanjut kata Joarsa, pendampingan kepada petani sangat diperlukan karena adanya keterbatasan terhadap informasi mengenai keberlanjutan dan pembiayaan. Pihaknya menyadari, sertifikasi keberlanjutan adalah mutlak untuk memenuhi tuntutan pasar global, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Selain Wilmar, anggota koperasi juga memperoleh pendampingan dari PT Permodalan Siak, yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah daerah. “Dengan mengantongi ISPO, kami semakin percaya diri karena sudah sesuai dengan standar,” tandas dia.
Sementara itu dituturkan Direktur PT Permodalan Siak (Persi) Husni Merza, pihaknya juga memberikan pendampingan pengelolaan kebun dan pembiyaan kepada anggota Koperasi Sekato Jaya Lestari. “Masih banyak petani yang belum bankable sehingga kami beraharap dapat membantu mereka,” katannya.
Tercatat hingga kini, Persi telah menyalurkan pembiayaan hampir Rp 18 miliar atau sekitar Rp 40 juta per ha. Pembiayaan tersebut dimanfaatkan untuk pengelolaan kebun sejak land clearing. Persi juga memberikan pendampingan pengelolaan kelembagaan koperasi dan pemasaran. “Kami juga memiliki program tambahan di luar itu seperti pembiayaan untuk pemupukan dan pembelian kendaraan,” kata Husni.
Direktur Mutu Indonesia Strategis Berkelanjutan Rismansyah Danasaputra menambahkan, proses audit Koperasi Sekato Jaya Lestari berjalan lancar dan dilakukan dalam waktu sekitar dua bulan. Pihaknya berharap, makin banyak koperasi petani yang mampu meraih sertifikasi ISPO. Untuk itu, kepedulian semua pihak sangat diperlukan. “Kami berharap semakin banyak pihak yang bersedia mendampingi petani karena mereka tidak bisa sendiri,” tandas Rismansyah. (T2)






