InfoSAWIT, JAKARTA - Dikatakan Direktur Utama BPDP-KS, Dono Boestami, pengembangan sektor perkebunan kelapa sawit nasional kerap menghadapi beragam tantangan, dengan kesulitan beragam, misalnya adanya tudingan sawit beresiko tinggi terjadinya deforestasi oleh Parlemen Uni Eropa, dan tudingan dumping biodiesel oleh Amerika Serikat.
Tidak terkecuali India sebagai pasar tradisional minyak sawit Indonesia juga melakukan hambatan perdagangan dengan menaikan tarif impor minyak sawit, dan terbaru adanya hambatan perdagangan dari Brazil yang pula menerapkan hal serupa meningkatkan tarif impor sekitar 14% lebih tinggi.
Selain, adanya hambatan perdagangan, tantangan pengembangan kelapa sawit juga dihadapkan pada harga minyak sawit global yang masih rendah. Kata Dono, penurunan harga minyak sawit itu sejatinya telah terjadi semenjak 2012 lalu, namun guna menghadapi tantangan tersebut BPDP-KS baru didirikan pada tahun 2015.
Dimana salah satu tugas BPDP-KS adalah menstabilkan harga dengan mencoba membuka pasar baru di domestik dengan dengan mendukung pengembangan pasar biodiesel sawit. Untuk sementara cara demikian dianggap mampu menahan dalamnya penurunan harga minyak sawit.
Tutur Dono, pihaknya kesulitan untuk melakukan penilaian batas ekonomis harga minyak sawit nasional. “Untuk sementara kami tetapkan bahwa angka harga minyak sawit stabil berada di US$ 570/ton,” katanya saat memberikan sambutan pada acara Buka Bersama Stakeholder BPDP-KS, Mei 2019 lalu, yang dihadiri InfoSAWIT. (T2)
Terbit pada Majalah Cetak InfoSAWIT Edisi Juni 2019







