InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Merujuk laporan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPOI) Impact Report 2019, keanggotaan RSPO tercatat tumbuh dengan 11% yang mengesankan mencapai 4.349 anggota pada 30 Juni 2019, dengan Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris mencapai masing-masing tiga besar untuk keanggotaan.
Lantas Menariknya, laporan ini juga menunjukkan peningkatan 25% pada pemegang lisensi Merek Dagang RSPO sejak periode pelaporan terakhir. Selanjutnya, ada juga pertumbuhan 2% dalam permintaan dan serapan keseluruhan selama periode pelaporan ini.
Melihat kondisi demikian, CEO RSPO, Datuk Darrel Webber, mengajak para anggota dari sektor hilir sawit untuk lebih banyak menerapkan skim berkelanjutan. Selain itu, anggota RSPO melanjutkan upaya mereka dengan menghindari pembukaan lahan dan penanaman baru di lahan gambut.
“Kami mampu menyelamatkan kawasan konservasi dalam pengembangan baru, sehingga menghemat 1,4 juta ton CO2, setara dengan mengeluarkan hampir 300.000 kendaraan penumpang dari jalan dalam satu tahun,” katanya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Rabu (30/10/2019).
Sekadar catata, awal bulan November 2019, anggota RSPO dari seluruh dunia akan bertemu pada Konferensi Meja Bundar Tahunan ke 17 tentang Minyak Kelapa Sawit Berkelanjutan (RT17) di Bangkok, Thailand, dengan tema, “Tanggung Jawab Bersama: Mengubah Komitmen Menjadi Tindakan”. Dengan target keberlanjutan tahun 2020 yang semakin dekat, RT17 akan menjadi platform yang ideal bagi perwakilan dari industri minyak sawit global untuk membahas tantangan dan peluang terbaru yang dihadapi sektor minyak sawit berkelanjutan.
Setelah itu, anggota Majelis Umum Tahunan ke 16 RSPO (GA16) akan memberikan suara pada sejumlah resolusi, termasuk usulan Standar Petani Kecil Independen RSPO. (T2)







