InfoSAWIT, LANGKAT - Pemberlakuan karantina wilayah atau 'lockdown' di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, resmi dicabut oleh pemerintah Cina pada hari Rabu (8/4). Hal ini disambut suka cita oleh masyarakat yang telah mengalami masa karantina selama 76 hari.
Tidak hanya itu, pelaku agirbisnis sektor pertanian juga menyambut baik kondisi ini mengingat Cina merupa salah satu pasar besar bagi produk pertanian.
"Alhamdulilah, dengan kondisi yang mulai membaik permintaan ekspor ke Cina yang sempat terpukul, kini permohonan pemeriksaan karantina mulai kembali, " kata Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil, di Jakarta, Jum’at (10/4/2020), dalam keterangan resm diterima InfoSAWIT.
Saat ini, pihaknya mencatat terdapat permohonan pemeriksaan di Karantina Pertanian Belawan untuk produk samping kelapa sawit berupa janjang kosong, jangkos sawit atau plam fiber ke Cina.
Jongkos sawit asal Sumut ini dikenal berkualitas tinggi, dan merupakan bagian limbah dari hasil pengolahan tandan buah segar (TBS) sawit. Dinegara tujuan ekspor biasanya jongkos ini digunakan sebagai bahan baku tali kapal, pengisi matras dan jok mobil hingga pesawat terbang.
Dari data karantina pertanian, di tahun 2019 jangkos asal Sumut berhasil membukukan lebih dari 7,5 ribu ton dengan nilai ekonomi mencapai 9,5 milar rupiah lebih.
Pada awal April ini, sebanyak 681 ton dengan kisaran nilai Rp 933 juta dinyatakan telah sesuai dengan persyaratan otoritas karantina Cina dan siap diberangkatkan ke pelabuhan Xingang, Huangpu dan Shanghai.
Menurut staf PT.UKIP, Pardede mengungkapkan bahwa produk ekspor ini sempat tertahan akibat penutupan pelabuhan. “Namun kini, dengan berakhirnya masa karantina wilayah di Cina permintaan kembail berdatangan,” kata Pardede. (T2)
Untuk InfoSAWIT berbahasa Inggris buka: https://www.palmoilmagazine.com/







