InfoSAWIT, JAKARTA - Bersama Lestari Capital dan People Resources and Conservation Foundation (PRCF) Indonesia, sebagai mitra kerjanya, Cargill menegaskan akan terus mendukung konservasi hutan dan wilayah konservasi penunjangnya di Desa Nanga Lauk, dengan total areal seluas 10.599 hektar.
Berlokasi di Kabupaten Kapuas Hulu, Desa Nanga Lauk memiliki hutan yang terdiri dari Hutan Desa dan Hutan Produksi Terbatas. Luas Hutan Desa berkisar 1.430 hektar dan mencakup hutan rawa gambut, tanah rawa dan danau. Sedangkan, Hutan Produksi Terbatas mencakup hutan rawa gambut seluas 9.169 hektar, termasuk kawasan hutan yang berdekatan dengan aliran sungai dan danau.
Kehidupan sekitar wilayah konservasi juga mendukung populasi manusia sekitar 197 keluarga atau 700 penduduk lokal, yang mengandalkan pencarian nafkah dari keberadaan hutan di sekelilingnya. Pasalnya, kehidupan masyarakat lokal selama beberapa generasi telah mengandalkan hutan sebagai mata pencarian kehidupan, melalui kegiatan menangkap ikan, bercocok tanam, dan memanen madu hutan.
Selain itu, hutan dan aliran air di sekitarnya juga merupakan sumber air, bahan bakar, bahan bangunan, dan obat tradisional. Seperti yang dituturkan tokoh masyarakat Desa Nanga Lauk, Rusman, mengenai kehidupan keluarganya dengan mengandalkan kehidupan dari hutan. Menurutnya, keberadaan hutan dan sungai telah memberikan banyak manfaat kehidupan.
“Kami telah tinggal di sini selama beberapa generasi. Hutan dan sungai telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan kami, dengan menyediakan sarana untuk hidup dan bertumbuh. Demi generasi yang akan datang, anak dan cucu, kami harus memastikan keberlangsungan hutan kami. Melindungi dan melestarikan hutan merupakan satu-satunya cara, agar manfaatnya dirasakan generasi mendatang,” katanya.
Dia juga menyebutkan, ekosistem dan sumber daya alam dari hutan, sangat dibutuhkan guna melestarikan lingkungan dan kehidupan generasi penerusnya. “Kami menyambut baik program pengelolaan hutan berkelanjutan ini, karena membantu masyarakat sekitar guna mencari nafkah, sekaligus memberikan kontribusi kembali ke hutan yang kami sebut rumah kami,” tandasnya.
Desa Nanga Lauk diharapkan dapat menjadi contoh bagi program-program konservasi yang berkualitas tinggi, yang memiliki manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan manusia. Program hutan desa memungkinkan anggota masyarakat berpartisipasi melindungi dan mengelola hutan, serta memperoleh penghasilan dari pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Program hutan desa memungkinkan anggota masyarakat untuk melindungi dan mengelola hutan, serta memperoleh penghasilan dari pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan. Program ini juga membantu masyarakat meningkatkan mata pencaharian melalui pelatihan di berbagai bidang seperti patroli hutan, keterampilan bisnis, pemasaran, dan pengembangan bisnis, pengelolaan dan pengolahan sumber daya alam seperti rotan, bambu, madu hutan dan ekowisata.
CEO Cargill Tropical Palm, Richard Low mengungkapkan dukungan terhadap kemitraan dengan Lestari Capital dan PRCF, dalam mengembangkan SCCM. Menurutnya, program jangka panjang ini menjadi komitmen perusahaan dalam pelestarian hutan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat.
Terbit pada Majalah InfoSAWIT Edisi Maret 2020







