Berita Lintas
sawitbaik

Kisah Para Pemanen Kelapa Sawit Cargill



Kisah Para Pemanen Kelapa Sawit Cargill

InfoSAWIT, JAKARTA - Memakai helm pengaman yang bertuliskan, “Safety First”, Heri (34) dengan tangkas memotong tandan kelapa sawit, sesuatu hal yang ia lakukan setiap hari sebagai pemanen kelapa sawit. Seperti rekannya, Taufik (37), Heri adalah salah satu dari 2.828 orang Indonesia yang bekerja di perkebunan kelapa sawit milik Cargill di Kalimantan Barat.

Setiap pagi, para pemanen di perkebunan Cargill memulai hari mereka dengan pengarahan dari atasan, senam pagi, sarapan dan memakai Alat Pelindung Diri (APD) seperti pelindung wajah dan sepatu boot sebelum mereka mulai bekerja. Dengan lori dan egrek, pemanen mencari pohon kelapa sawit dengan buah yang matang dan siap dipanen.

“Kami mencari pohon-pohon yang berondolannya telah jatuh setidaknya 10 berondolan, itu tanda berarti pohon siap panen. Saya bertanggung jawab untuk memanen pohon kelapa sawit pada saat yang tepat. Jika buah kelapa sawit dipanen terlalu awal atau terlambat, kualitas buahnya tidak akan baik. Akibatnya, jumlah minyak sawit yang diproses di pabrik akan berkurang,” jelas Heri, yang telah bekerja di Cargill selama lebih dari enam tahun.

Satu kelompok pemanen di perkebunan kelapa sawit Cargill terdiri dari satu pengawas yang menangani 15 hingga 20 pemanen, dan satu pemanen biasanya bekerja di areal perkebunan seluas 1,5 hingga 2 hektar. Setiap pohon dipanen setiap sepuluh hari karena masa panen tandan buah segar tiba pada waktu yang berbeda. Tandan buah Segar (TBS) sawit dikumpulkan setiap hari dan harus dikirim ke pabrik kurang dari 24 jam untuk memastikan kualitas dan hasil yang optimal.

“Saya memanen sekitar 136 pohon setiap hari pada satu hingga dua hektar area perkebunan. Untuk melakukan ini, saya memangkas cabang luar pohon kelapa sawit dan menarik tandan buah segar menggunakan egrek. Saya harus berhati-hati terhadap tandan buah yang jatuh. Aturan dari perusahaan adalah menjaga jarak aman sekitar 1,5 hingga 2 meter dari pohon karena setiap tandan buah dapat memiliki berat hingga 35 kilogram,” kata Taufik, seorang pemanen yang telah bekerja selama lebih dari empat tahun.

Pemanen juga harus waspada terhadap ular berbisa. Cargill telah menyiapkan berbagai strategi pencegahan gigitan ular, termasuk melengkapi karyawannya dengan APD, terutama untuk kaki dan tangan mereka. Perusahaan juga telah melatih karyawan untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika ada kasus gigitan ular. Di setiap klinik perkebunan, antivenom ular tersedia untuk pertolongan pertama. Cargill juga memiliki kebijakan gigitan ular terintegrasi dan akan selalu digunakan sebagai panduan utama dalam mencegah dan menangani gigitan dan serangan ular berbisa.

Pekerjaan sebagai pemanen kelapa sawit membutuhkan tubuh yang sehat. Agar tetap bugar, para pemanen setiap pagi berolahraga bersama. Sebagian besar pemanen tinggal di perumahan yang telah disediakan oleh Cargill untuk semua karyawan, sehingga terbangunlah rasa kebersamaan dan ikatan komunitas yang kuat. Karyawan juga diberikan akses gratis dan mudah untuk fasilitas-fasilitas penting seperti air bersih di rumah, pasokan listrik, layanan kesehatan yang memadai dengan dokter bersertifikat dan akses pendidikan hingga tingkat sekolah menengah pertama.

“Saya bersyukur bekerja di Cargill karena Perusahaan menghargai para karyawannya, dan kerja keras kami semua juga diapresiasi oleh Perusahaan, yang mana hal ini memberi peluang lebih baik bagi keluarga saya,” kata Heri.

Lebih lanjut kata Heri, dirinya bangga bahwa telah membuat keputusan yang tepat dan memilih untuk bekerja di Cargill. “Standar hidup saya dan keluarga saya meningkat,” kata Taufik. (T1)

Lebih lengkap baca Majalah InfoSAWIT Cetak edisi April 2020