Jakarta, 10 Juni 2020 – Pandemi COVID 19 telah memengaruhi tatanan kehidupan ekonomi dan perdagangan baik global maupun nasional; termasuk sektor komoditas sumber daya alam untuk memenuhi ketersediaan pangan. Saatnya bagi pelaku bisnis selaku penggerak ekonomi untuk bertransformasi, salah satunya lewat investasi hijau agar bisa menjaga rantai pasok secara berkelanjutan dan mampu memberdayakan semua pihak dalam rantai pasok tersebut.
Tahun ini, ekonomi global diperkirakan akan mengalami kontraksi yang dampaknya diperkirakan lebih besar daripada krisis keuangan global 2008-2009. Secara global, perekonomian diprediksi tumbuh negatif sebesar (-3%) atau mengalami resesi dan perdagangan global mengalami penurunan sebesar 13-32%. Sedangkan di tingkat nasional, proyeksi pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 2020 adalah minus 4 hingga minus 23%.
Khusus sektor komoditas sumber daya alam, krisis ekonomi dan finansial akibat pandemi ini telah memengaruhi alur produksi dan distribusi rantai pasok mereka baik ke pasar nasional maupun global. Dengan pembatasan pergerakan, umumnya alokasi distribusi sebagian besar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik . Sementara di sisi lain, permintaan dari konsumen domestik perlu disesuaikan dengan kemampuan daya beli mereka.
Menanggapi hal ini, Ketua Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) Fitrian Ardiansyah mengemukakan, sebagai pendukung kemitraan pemerintah, publik dan swasta untuk pertumbuhan ekonomi dan investasi hijau di Indonesia, dirinya melihat momentum pandemi ini semakin menguatkan keberadaan bisnis berbasis investasi hijau di tanah air.
Dikarenakan model bisnis investasi hijau dikembangkan dengan memastikan dampak yang dirasakan tidak hanya memberikan keuntungan bagi pengusaha sendiri, melainkan juga memberikan dampak bagi pemberdayaan petani/nelayan selaku pelaku di sektor hulu. Yang tidak kalah penting, model bisnis ini memastikan perlindungan lingkungan seperti hutan dan gambut saat ini dan ke depannya. “Dengan demikian, model bisnis ini membantu daya tahan masyarakat dan daya dukung lingkungan yang penting dalam menghadapi pandemi,” katanya dalam Diskusi Online yang dihadiri InfoSAWIT, Rabu (10/6/2020)
Bersama dengan sejumlah kelompok tani dan mitra swasta serta pemerintah daerah, Yayasan IDH memiliki beberapa contoh praktik terbaik investasi hijau yang membawa dampak positif selama pandemi ini.
Pertama, meningkatnya permintaan terhadap madu kelulut di hutan desa Padang Tikar, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Kedua, adanya diversifikasi pendapatan yang diperoleh petani swadaya kelapa sawit berkelanjutan di Jambi. Ketiga, manfaat aplikasi bernama ‘Jala’ yang berhasil memperluas dan membuka pasar domestik baru bagi petambak udang di Banyuwangi.
Kepala Sekolah Petani Sawit Berkelanjutan FORTASBI, Rukaiyah Rafiq mengemukakan, petani yang telah menerapkan praktik berkelanjutan jauh sebelum masa pandemi, mereka memiliki ketahanan pangan yang lebih baik dibandingkan dengan petani swadaya lainnya.
Lebih lanjut kata Rukaiyah, mereka juga telah mampu memperkuat kelembagaan, memperluas keanggotaan, membentuk kelompok-kelompok bisnis baru, dan memulihkan lingkungan yang rusak.
“Di Jambi, hingga saat ini, petani masih melakukan pemulihan sungai yang rusak agar bisa menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi seluruh masyarakat di sekitar sungai tersebut. Dengan kata lain, model bisnis hijau ini telah memberikan kapasitas yang sangat baik bagi para petani untuk melindungi dan memulihkan lingkungan mereka untuk dijadikan sumber mata pencaharian, sekaligus memastikan keberlangsungan hidup yang lebih sejahtera, termasuk di masa COVID 19 ini,” kata Rukaiyah yang juga sebagai Direktur Yayasan SETARA Jambi.
Sementara Investment Associate Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF), Bangkit Oetomo menegaskan, investasi hijau sebagai model bisnis berkelanjutan bisa menjadi solusi bagi perbaikan ekonomi pasca COVID 19 dan merupakan model bisnis yang akan terus berkembang dan bahkan bisa mendominasi di masa depan.
“Model bisnis ini memberikan ruang bagi perusahaan untuk memperkuat sistem dan daya dukung mulai dari ketersediaan suplai, perbaikan kualitas barang/komoditas, dan kepastian berbisnis untuk jangka panjang,” katanya. (T2)










